/

Galery Qur'an Mushaf Sundawi

Al-Quran Mushaf Sundawi, Karya Monumental Pusaka Umat Islam Jawa Barat

Jika ke Pusdai, lalu masuk ke perpustakaan, di ujung ruangan kita akan mendapati peti-peti indah berukuran besar yang penuh dengan ukiran dan hiasan serta ditutup rapat dan dilindungi oleh kaca tebal. Kalau kita ada di sana, pasti akan bertanya-tanya, benda apakah yang ada di dalam peti tersebut?

Ternyata, di dalam peti-peti itulah karya monumental mushaf Al-Quran ukuran raksasa tulisan tangan dengan hiasan bernuansa budaya Pasundan disimpan. Mushaf tersebut dinamakan Al-Quran Mushaf Sundawi.

Al-Quran Mushaf Sundawi adalah penulisan Al-Quran yang berpegang pada kaidah baku Rasm Utsmani (acuan Al-Quran seluruh dunia) dan bentuk khat (tulisan indah) yang sesuai kaidah penulisan mushaf. Huruf dan harakat (tanda baca) yang digunakan sangat mudah dikenal dan biasa dibaca oleh kalangan masyarakat Jawa Barat khususnya dan umat Muslim Indonesia umumnya, serta diberi hiasan yang mengangkat keindahan alam dan budaya Jawa Barat.

Secara konseptual, Al-Quran Mushaf Sundawi merupakan perpaduan antara teks wahyu (Al-Quran). Hiasannya yang diangkat dari khazanah budaya tatar Pasundan merupakan keserasian dan keseimbangan antara zikir dan pikir masyarakat Jawa Barat.

Penulisan Al-Quran tersebut melibatkan ulama, khaththâth (ahli menulis indah), desainer, seniman, iluminator, dan para pakar lainnya yang kompeten di Jawa Barat.

Al-Quran yang tiap lembarnya berukuran 75 x 100 cm tersebut ditulis dan dihias secara manual. Seluruh ayat dalam Al-Quran ditulis tangan dengan menggunakan alat tulis berupa pena dari batang handam (jenis tanaman paku) dan tinta hingga menghabiskan 24.000 ml tinta warna dan 5.000 ml tinta hitam.

Ragam hiasnya dilukis dengan menggunakan cat akrilik yang “dioplos” dengan serbuk emas murni hingga menghabiskan 1.000 gram dan lembaran (prada) emas yang ditempel sebanyak 1.500 gram.

Hal yang menarik dari Al-Quran Mushaf Sundawi ini adalah setiap halamannya terdiri dari 15 baris. Sedangkan untuk halaman-halaman istimewa seperti Ummul Qur’an, Nishful Qur’an, dan Khatmul Qur’an jumlah barisnya lebih sedikit, sehingga jumlah setiap juznya menjadi 24 halaman kecuali halaman istimewanya memiliki halaman lebih banyak. Jumlah baris tiap halamannya lebih sedikit dibandingkan dengan lembaran Al-Quran pada umumnya, sedangkan jumlah halaman setiap juznya lebih banyak. Tujuan penyusunan penulisan tersebut, dengan berbagai pertimbangan, antara lain demi kemudahan dan kenyamanan membaca. Yakni, agar pembaca tidak mudah penat dan tidak jenuh, bahkan selalu terangsang dan penasaran untuk terus membuka dan membacanya. Dengan sistem penulisan seperti itu, total halamannya menjadi 763 halaman.

Demikian pula dengan ragam hiasnya, sumber inspirasinya berasal dari karya budaya yang bernuansa islami daerah Jawa Barat, baik yang mewakili wilayah tatar Pasundan (Jawa Barat) maupun daerah-daerah lainnya di Jawa Barat, seperti Cianjur, Indramayu, Cirebon, Ciamis, Tasikmalaya dan yang lainnya. Selain itu, inspirasinya juga bersumber pada flora tertentu yang khas alam Jawa Barat, seperti patrakomala, gandaria, hanjuang, the, dan padi. Selanjutnya diekspresikan ke dalam lembaran-lembaran mushaf untuk menghiasi tulisan ayat-ayat Al-Quran. Setiap juz dihias dengan motif tertentu, antara satu juz dengan juz lainnya mempunyai motif hiasan yang berbeda.

Sebagai contoh, juz 1 ragam hiasnya motif teh I, juz 2 motif Banten, juz 4 motif Bogor, Sukabumi, Cianjur, Tangerang, dan Bekasi dan seterusnya. Khusus halaman-halaman istimewa mengangkat motif Jawa Barat (tatar Pasundan) dengan masing-masing halaman mempunyai bentuk hiasan yang berbeda.

Dengan mengangkat motif alam dan budaya Jawa Barat ini, secara psikologis diharapkan ada kedekatan antara pembaca dengan mushaf Al-Quran yang dibacanya. Demikian pula perubahan motif hiasan di setiap pergantian juznya diharapkan dapat memberikan suasana baru setiap selesai membaca satu juz, sehingga akan termotivasi untuk meneruskan membaca juz berikutnya.

Selain keindahan dari khatnya, keindahan ragam hias yang mengangkat motif alam dan budaya Jawa Barat inilah yang menjadi ciri khas Al-Quran Mushaf Sundawi. Inilah karya monumental penulisan Al-Quran yang dapat menjadi pusaka dan harta karun tak ternilai milik masyarakat Jawa Barat.

Lembaran-lembaran mushaf asli tulisan tangan yang berjumlah 763 halaman tersebut tidak dijilid, tetapi disimpan secara khusus pada laci stainless steel (baja putih). Setiap juz disimpan di dalam satu laci, lalu dimasukkan ke dalam peti besar berjumlah tiga buah yang masing-masing menyimpan 10 juz. Peti-peti itu terbuat dari kayu jati dan sonokeling yang tahan terhadap gangguan rayap. Setiap petinya ditutup rapat dan dilindungi oleh kaca setebal 12 mm. Setiap peti diberi motif bahan kuningan dan ukiran bahan kayu jati “pendem” berusia sekitar 200 tahun dan dihias oleh batu-batu mulia yang berasal dari daerah-daerah di Jawa Barat.

Untuk dapat melihat karya asli dari mushaf tersebut, setiap juznya memiliki dua halaman yang dibuat dua kali sebagai duplikat asli (bukan scan atau tiruan), yang saat ini dipajang di sekitar peti. Sedangkan untuk dapat dibaca oleh masyarakat, Al-Quran Mushaf Sundawi telah dicetak dalam ukuran normal full colour. Akan tetapi, karena pencetakannya terbatas, sampai saat ini hanya sedikit masyarakat atau masjid-masjid yang memilikinya.

Dalam rangka memasyarakatkan dan membiasakan baca Al-Quran, mudah-mudahan Al-Quran Mushaf Sundawi dapat segera dicetak kembali. Karena itu, peran pemerintah, lembaga swasta, maupun masyarakat sangat diharapkan untuk turut mendukung pencetakan mushaf tersebut dan semoga Allah Swt. selalu menuntun kita semua. Amin.[]