Breaking News

Iman, Islam, & Ihsan:

3 Pilar Agama Yang Saling Menguatkan

Untitled-2Agama kita ini dibangun berdasarkan 3 fondasi: akidah, syariat, dan akhlak.. Iman, Islam, & Ihsan.. Dengan bahasa yang lain, agama ini mengsyaratkan kesempurnaan tiga hal penting terkait akidah, syariat dan akhlak. Inilah yang disinggung dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang makna Imam, Islam, dan Ihsan.

Tentang keimanan ini, ayat yang khatib bacakan tadi pada pembukaan khutbah, yaitu Surah Al-Hujurat ayat 14, menegaskan kepada kita bahwa jangan buru-buru kita mengaku beriman sementara kita masih sangat jauh dari aktivitas-aktivitas keimanan.

Keimanan, yang memiliki 6 rukun penting, erat kaitannya dengan akidah. Hitungan 6 ini, yaitu percaya kepada Allah, malaikat, hari akhir, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, serta qadha dan qadar-Nya adalah sesuatu yang mutlak. Kita tidak boleh minta diskon dengan cara minta dikurangi salah satu rukun iman ini. Sebab, rumus keimanan itu berbeda dengan hitungan matematis. Dalam masalah keimanan, 6 dikurang 1 sama dengan 0. Hilang saja kepercayaan kita terhadap salah satu rukun keimanan ini, maka kita belum termasuk orang beriman.

Setelah kita menguatkan fondasi keimanan, yang perlu kita lakukan adalah menyempurnakan Islam, atau menjalankan syariat-syariat Allah. Kalau kita beriman tapi tak menjalankan syariat, maka keimanan kita juga sia-sia. Sama halnya seperti keimanan, dalam syariat pun kita tidak boleh pilih-pilih. Misalkan, kita hanya ingin mengerjakan puasa, tapi tidak mau shalat, atau sebaliknya.

Ibadah pada hakikatnya merupakan fondasi bagi setiap orang untuk dapat melahirkan sikap-sikap dan perilaku yang luhur. Ibadah selalu memberi manfaat ganda. Pada satu sisi ia merupakan cara manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan hati dan pikiran serta membebaskan diri dari ketergantungannya kepada selain Tuhan. Pada saat yang sama ibadah tersebut juga menuntut hamba-hamba Allah untuk mengemban tugas-tugas dan tanggungjawab sosial serta kemanusiaan. Setelah keimanan dan syariat kita penuhi dengan baik, tugas kita berikutnya adalah mewujudkan ihsan atau efek positif dari syariat yang kita lakukan. Syariat atau ibadah yang kita lakukan harus bisa memberikan efek positif bagi kita secara pribadi dan bagi lingkungan di sekitar kita.

Karena itu, dalam Al-Quran, orang yang tidak shalat dan orang yang shalat sama-sama mendapatkan ancaman dari Allah. Dalam Surah Al-Muddatstsir disebutkan, Ma salakakum fi saqar (apa yang menyebabkan kalian masuk neraka Saqar)? Lam naku minal mushallin (Dulu kami termasuk orang-orang yang mengabaikan ibadah shalat). Jelas ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang tidak mau mengerjakan shalat.

Lalu, mengapa orang yang shalat tetap diancam siksa Allah? Sebab, shalatnya tidak dapat memberikan efek positif bagi kepribadiannya dan dan pembangunan karakternya. Allah Swt. menyatakan dalam Surah Al-Ma’un, Celaka bagi orang-orang yang shalat, karena shalat tidak dapat mendorongnya untuk berbagi kebaikan dengan sesamanya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa kesalehan individual selalu menuntut lahirnya efek-efek kesalehan sosial dan kemanusiaan. Ketika ibadah-ibadah personal tersebut tidak melahirkan efek kesalehan sosial dan kemanusiaan, apalagi kalau kemudian justru melahirkan sikap-sikap buruk, negatif atau merugikan kepentingan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan, maka ia dapat dikatakan sebagai sebuah kebangkrutan dan kegagalan dalam menjalankan agama. Nabi Saw. pernah menyinggung persoalan ini dalam sebuah hadis riwayat Al-Tirmidzi:

“Apakah anda tahu siapa orang yang bangkrut?”

قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ

Para sahabat nabi menjawab, “Orang yang bangkrut  di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda.”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ وَزَكَاتِهِ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيَقْعُدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْتَصَّ مَا عَلَيْهِ مِنْ الْخَطَايَا أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Nabi bersabda : “Tidak demikian. Orang yang bangkrut dari kalangan umatku  adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama ia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka orang-orang lain tersebut (para korban) akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al muflis). Ketika seluruh pahala kebaikannya habis sebelum dia dapat melunasinya, maka dosa-dosa mereka (para korban) akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia akan dilemparkan ke dalam api neraka.”

Inilah tiga pilar agama yang harus dibangun oleh seorang yang mengaku beriman: iman, islam, dan ihsan. Dengan kata lain, kita perlu menguatkan fondasi akidah, syariat, dan akhlak. Karena itu, marilah kita berdoa semoga Allah meneguhkan langkah kita di jalan kebenaran, menguatkan keimanan kita, membimbing kita untuk selalu istiqamah mengerjakan syariat-syariat-Nya, dan menuntun kita agar menjadi pribadi yang baik bagi lingkungan di sekitar kita.

Semoga Allah menerima amal kita semua, dan enggolongkan kita kepada kelompok orang-orang bertakwa.[]

Nomor 8 Volume 2; 17 April 2015 / 27 Jumadil Akhir 1436 H

  • slide

  • slide

  • slide

  • slide

Check Also

Keseimbangan alam

Keseimbangan & Siklus alam. Apakah musim kemarau harus mempertahankan kekuasaaannya agar tak digantikan oleh musim ...

Memaknai Syukur

Syukur… Jangan resahkan nikmat apalagi yang akan engkau terima dari Allah. Tapi resahkanlah apakah engkau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.