Breaking News

Islam

Agama yang Menjunjung Keadilan & Kasih Sayang

BPIC 24 april 2015Dalam bukunya, Islam Unveiled, Robert Spencer, seorang Barat yang mengaku telah mempelajari agama Islam selama 20 tahun, mengatakan bahwa Islam adalah agama yang tidak mengakui nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM). Ia juga menganggap bahwa teks-teks yang termaktub dalam kitab suci umat Islam telah memberikan inspirasi dan semangat yang menggebu kepada umat Islam untuk melakukan aksi “jihad demografik”. Karena itulah, sebagus dan sebaik apapun nilai-nilai HAM, tetap tidak akan diterima bagi kalangan muslim. Pemahaman Islam tentang HAM yang sangat unik, termanifestasi dalam mikrokosme beberapa pandangan Al-Quran terhadap non-Muslim. Bagi seorang Spencer, asumsi superioritas Muslim dan inferioritas non-Muslim mendasari hak-hak penataan dalam dunia Islam. Dalam kaitan itu, adalah mimpi belaka menghubungkan Islam dengan perdamaian.

Penilaian miring Barat selama ini terhadap Islam mengenai HAM perlu dikaji kembali. Adalah sangat tidak tepat ketika kita mengatakan bahwa Islam kabur dari persoalan HAM. Justru sebaliknya, Islam datang secara inheren membawa ajaran tentang HAM, sebagaimana pandangan Al-Maududi, bahwa ajaran HAM yang terkandung dalam Piagam Magna Charta yang lahir di Inggris tercipta 600 tahun setelah kedatangan Islam. Selain itu, pemikiran Islam mengenai hak-hak bidang sosial, ekonomi, dan budaya telah mendahului pemikiran Barat. Sejarah Islam mengungkap bahwa sumber utama HAM terdapat di dalam Al-Quran dan Sunnah.

Dalam deklarasi Madinah melalui Piagam Madinah yang terdiri 47 point merupakan konstitusi atau Undang-Undang Dasar (UUD) bagi negara Islam yang pertama didirikan oleh Nabi Muhammad Saw. sebagai pedoman perilaku sosial, keagamaan, serta perlindungan semua anggota komunitas yang hidup bersama-sama di Madinah.
Fenomena Piagam Madinah yang dijadikan pedoman perilaku sosial, keagamaan, serta perlindungan semua anggota komunitas yang hidup bersama-sama tersebut sampai menimbulkan decak kagum dari seorang sosiolog modern terkemuka berkebangsaan Amerika, yaitu Robert N Bellah, yang menyatakan bahwa kehidupan Madinah yang sangat menjunjung tinggi HAM, terlampau modern untuk ukuran zaman itu.

Generasi Islam Terbaik: Menegakkan Keadilan Tanpa Pandang Bulu

Ada satu generasi dalam Islam yang tidak bisa berulang, di masa sekarang maupun di masa-masa yang akan datang. Itulah generasi terbaik, generasi Rasulullah Muhammad Saw., dimana beliau hidup, memberi teladan, dan menjadi pemimpin bagi generasi itu. Generasi yangsepenuhnya memposisikan diri mereka untuk dipimpin, dibimbing, dan dididik oleh Rasulullah Saw.

Pada kesempatan ini, kita tidak sedang membicarakan tentang kepahlawanan, pengorbanan, keilmuan, keluhuran budi, maupun tingkat kezuhudan orang-orang pada generasi Rasulullah Saw. Sebab, kita semua tentu sama-sama mengetahui dan membaca keistimewaan yang dimiliki oleh generasi terbaik itu, generasi Rasulullah Saw. Lebih jauh, di sini khatib ingin menyampaikan persoalan lain, mengenai bagaimana keadilan hukum dan persamaan hak dipraktikkan pada masa generasi itu, agar kita bisa menilai sejauh mana kita sudah mendekati mereka, atau malah sudah terlampau menjauh dari mereka.

Ada sebuah kisah yang diceritakan dalam kitab Shahih Muslim. Suatu hari, ketika Rasulullah Saw. sedang menyampaikan pengajaran kepada para sahabat di dalam masjid, tiba-tiba datanglah seorang perempuan. Ia menghadap kepada Rasulullah Saw., dan mengatakan kepada beliau bahwa ia sudah berzina dan ingin menyucikan dosa yang telah diperbuatnya. Majelis pengajaran Rasulullah Saw. terhenti. Lalu, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.? Apakah beliau langsung meminta kesaksian para sahabat? Apakah beliau senang karena perempuan itu mau menyerahkan dirinya? Tidak, bahkan Rasulullah Saw. begitu marah yang terlihat dari ekspresi wajahnya sampai-sampai beliau memalingkan mukanya, dan diam seribu bahasa, seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan itu.

Ya, perempuan yang telah dengan besar hati mengakui dosanya, perempuan yang ingin meminta kebaikan dari Rasulullah Saw. Keimanan benar-benar telah menancap pada diri perempuan itu. Apakah perempuan mengira bahwa dosa-dosanya bisa hilang begitu dengan sekadar pengakuannya kepada Rasulullah Saw., dan kemudian urusannya beres? Tidak, perempuan itu tahu dan sadar, bahwa kesucian dirinya hanya akan ia dapatkan kembali manakala hukum telah ditegakkan kepadanya. Ia mengakui kesalahannya, dan ingin agar kesalahan itu diampuni oleh Allah hanya dengan meminta penegakan hukum. Perempuan ini begitu terpuji. Derajatnya, bahkan, telah melampaui orang-orang yang mengaku dirinya terbaik dan terpilih pada masa sekarang ini, yang bahkan untuk mengakui kesalahan pun amat begitu sulit. Lebih-lebih untuk meminta sendiri penegakan hukum atas dirinya.
Lalu apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. terhadap wanita itu? Beliau meminta perempuan itu mengulangi perkataannya, demi meyakinkan diri beliau bahwa perkataan perempuan itu benar-benar lahir dari kesadarannya.

Tapi, perempuan itu mengatakan hal yang sama, bahwa ia sudah berbuat zina.

Ketika perempuan itu kembali menghadap kepada Rasulullah Saw., dan mengatakan, “Aku telah melahirkan, wahai Rasulullah. Tegakkanlah hukum kepadaku!” Maka, Rasulullah Saw. pun mengatakan kepadanya, “Pulanglah hingga engkau selesai menyusui anakmu. Kalau sudah selesai, datanglah kembali kepadaku.”

Perempuan itu pun melakukan perintah Rasulullah Saw. Sembilan lamanya ia mengandung, lalu dua tahun ia menyusui. Ia mau bersabar menunggu penegakan hukum dari Rasulullah Saw., bukan malah menjadikannya sebagai kesempatan untuk lari dari hukum, sebagaimana perilaku para pelaku kejahatan di negeri kita. Begitu pun sikap Rasulullah Saw., membiarkan perempuan itu melaksanakan tugas keibuannya. Beliau tak mengirimkan pasukan untuk menjaga perempuan itu, atau memberinya status sebagai tahanan rumah. Beliau membiarkannya, sampai perempuan itu kembali datang kepada Rasulullah Saw. dan mengatakan, “Wahai Rasulullah! Bersihkan aku dari dosa perzinahan.”

Melihat keteguhan perempuan itu, Rasulullah Saw. pun menjalankan tugasnya untuk menjatuhkan hukuman kepada perempuan itu. Beliau memerintahkan agar perempuan itu dirajam. Para sahabat pun melakukannya, sampai-sampai Khalid ibn Walid melemparkan batu ke arah kepala perempuan itu, sambil mencelanya. Mendengar itu, Rasulullah Saw. langsung menyela:

مَهْلاً يَا خَالِدُ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ

“Hentikan Khalid! Demi Allah, perempuan ini telah melakukan pertobatan, yang sekiranya dilakukan oleh para koruptor, niscaya dosanya akan diampuni.”

Dalam riwayat lain disebutkan, setelah perempuan itu dirajam sampai wafat, Rasulullah Saw. pun menshalatinya. Umar lalu bertanya, “Mengapa engkau menshalati perempuan itu, padahal ia sudah berzina?” Kata Rasul:

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسَهَا لِلَّهِ تَعَالَى

“Perempuan ini sudah bertobat. Kalau saja tobatnya dibagikan kepada tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya masih tetap tersisa. Adakah tobat yang lebih utama daripada seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah?
Inilah Islam, yang senantiasa tegas dalam menerapkan hukuman, tetapi selalu menjaga rahmat apabila hukuman telah ditegakkan. Inilah Islam yang senantiasa menerima pertobatan, dan memberikan syafaat di sisi Allah pada Hari Kiamat nanti.

Islam adalah agama keadilan, yang senantiasa melatih setiap nurani kita, menyucikan jiwa kita, dan menancapkan keimanan di dalam sanubari kita. Dalam Islam, keadilan haruslah ditegakkan, dan persamaan hak untuk mendapatkan pembelaan merupakan salah satu faktor yang menguatkan bangun umat ini.

Ada kisah lain ketika Rasulullah Saw. memerintahkan untuk menjatuhkan hukuman kepada perempuan pencuri dari kalangan Makhzumiyah. Perempuan ini adalah seorang bangsawan, yang memiliki kedudukan terhormat di kalangan Quraisy. Maka, orang-orang Quraisy pun meminta Usman ibn Zaid r.a., sahabat yang begitu dicintai Rasulullah Saw., untuk membujuk beliau agar mau membatalkan hukum terhadap perempuan tersebut. Tapi, Rasulullah Saw. bukannya luluh, beliau marah dan berkata:

أَتَشْفَعُ فِى حَدٍّ مِنْ حُدُوْدِ اللَّهِ؟

“Apakah engkau ingin aku membatalkan hukuman yang ditetapkan Allah?”

Usamah pun segera beristighfar dan meminta maaf atas kekeliruannya. Ketika hukuman terhadap perempuan pencuri itu hendak dijalankan, Rasulullah Saw. berkhutbah kepada para sahabat:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَإِنِّى وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu binasa, karena apabila kalangan bangsawan di kalangan mereka mencuri, maka hukuman tidak ditegakkan. Akan tetapi, apabila ada orang lemah yang mencuri, hukuman pun ditegakkan. Demi Allah! Kalaulah Fathimah binti Muhammad mencuri, maka akulah yang pertama kali akan memotong tangannya.”

Dalam Islam, tidak ada jaminan bagi seorang pun untuk mengelak dari hukum, apabila ia memang melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Penegakan hukum dalam Islam tak boleh dicampuri dengan nafsu dan ambisi, apalagi dimasuki kepentingan kekuasaan dan politik. Dalam hadis riwayat Al-Thabarani, Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا بَلَغَتِ الْحُدُوْدُ السُّلْطَانَ لَعَنَ اللَّهُ الشَّافِعَ وَالْمُشَفَّعَ

“Kalau penegakan hukum sudah dicampuri oleh kepentingan kekuasaan, maka Allah melaknat orang yang memberi dan diberi keringanan hukum.”

Dalam Islam, hukum harus ditegakkan, baik kepada orang-orang kaya maupun kepada orang-orang miskin. Bangsawan maupun kelompok lemah, kalau mereka berbuat salah, harus sama-sama dihukum.[]

Media Dakwah & Informasi BPIC Jabar, PUSDAI,  Masjid Nurul Qur’an, Masjid At-Ta’awun, dan Mesjid Raya Prov. Jabar

Nomor 7 Volume IV APRIL 2015

  • slide

  • slide

  • slide

  • slide

Check Also

Keseimbangan alam

Keseimbangan & Siklus alam. Apakah musim kemarau harus mempertahankan kekuasaaannya agar tak digantikan oleh musim ...

Memaknai Syukur

Syukur… Jangan resahkan nikmat apalagi yang akan engkau terima dari Allah. Tapi resahkanlah apakah engkau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.