Breaking News

Mengharap Rahmat Allah

(Tafsir Surah Al-Baqarah [2]: 218)

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabun Nuzul

2617150694_882c68af2fDiriwayatkan oleh Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, AL-Thabarani di dalam Al-Kabîr, Al-Baihaqi di dalam Sunan-nya, yang bersumber dari Jundab ibn Abdullah, bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Abdullah ibn Jahsy. Mereka berpapasan dan bertempur dengan pasukan musuh yang dipimpin oleh Ibn Al-Hadhrami, dan terbunuhlah komandan pasukan musuh. Sebenarnya waktu itu tidak jelas bagi pasukan Abdullah ibn Jahsy, apakah termasuk Rajab, Jumada Al-Ula, atau Jumada Al-Tsaniyah. Kaum musyrikin mengembus-embuskan berita bahwa kaum muslimin berperang di bulan haram. Maka Allah menurunkan ayat, Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah [2]: 217).

Kaum muslimin yang ada di Madinah berkata, “Perbuatan mereka berperang dengan pasukan Ibn Al-Hadharami ini mungkin tidak berdosa, tetapi juga tidak akan mendapat pahala.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (QS Al-Baqarah [2]: 218). (Lihat dalam Tafsîr Al-Thabari, Tafsir Al-Qur’ân Al-‘Azhîm karya Ibn Katsir, Rûhul Ma’âni karya Al-Alusi, Al-Durr Al-Manshûr karya Jalaluddin Al-Suyuthi, dll.) Menurut Ibn Manzhur, hijrah adalah pergi dari satu negeri menuju negeri yang lain.
Tafsir Kata

1.    Al-hijrah (الهجرة) secara bahasa bermakna memutuskan atau meninggalkan. Menurut Al-Raghib Al-Ashfahani, makna asal muhâjarah (المهاحرة) adalah berpisah dan meninggalkan yang lain, baik fisik, lisan, dan hati (lihat dalam Al-Mufradât li Gharîbil Qur’ân karya Al-Raghib Al-Ashfahani h. 537 dan Maqâyîsul Lughah (6/34) karya Ibn Faris.

Adapun makna hijrah secara istilah, menurut Al-Raghib dalam Al-Mufradât li Gharîbil Qur’ân h. 537, adalah pergi dari negeri kafir menuju negeri iman, sebagaimana orang yang berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Termasuk pula dalam pengertian ini adalah meninggalkan dan menolak syahwat, akhlak tercela, serta keburukan. Menurut Ibn Al-Qayyim dalam Tharîqul Hijratain (1/20), hijrah ada dua: pertama, hijrah menuju Allah dengan membawa pengharapan, cinta, penghambaan, tawakal, pertobatan, kepasrahan, khauf, rajâ’, dan segenap jiwa yang membutuhkan dekapan-Nya. Kedua, hijrah menuju Rasulullah Saw. untuk selalu menyesuaikan diri, baik secara batin maupun lahir, dengan syariat yang dibawanya agar bisa meraih cinta dan keridhaan Allah.

2.    Menurut Al-Raghib Al-Ashfahani, jihad ada tiga bentuk: (1) berjihad melawan musuh yang nyata; (2) berjihad melawan setan; (3) berjihad menjawab hawa nafsu. Ketiga bentuk jihad ini termasuk dalam firman Allah Swt.,  Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya (QS Al-Hajj [22]: 78) Dalam hadis pun Rasulullah Saw. menyatakan, “Berjihadlah atas hawa nafsumu, sebagaimana engkau berjihad terhadap musuh-musuhmu.”

Tafsir Ayat

1.    Hijrah tak selalu berpindahnya dari satu negeri ke negeri lain. Memaksimalkan diri untuk berikhtiar di negeri sendiri memiliki pahala yang amat tinggi. Dalam sebuah hadis diceritakan:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْهِجْرَةِ فَقَالَ وَيْحَكَ إِنَّ شَأْنَهَا شَدِيدٌ فَهَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ تُؤَدِّي صَدَقَتَهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاعْمَلْ مِنْ وَرَاءِ الْبِحَارِ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَتِرَكَ مِنْ عَمَلِكَ شَيْئًا

Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai hijrah. Rasulullah Saw. menjawab, “Celaka kamu! Sesungguhnya masalah hijrah itu sangat berat. Apakah kamu mempunyai unta?” Badui itu menjawab, “Ya.” Rasulullah Saw. bertanya lagi, “Apakah kamu menunaikan zakatnya?” Orang itu menjawab, “Ya.” Rasulullah Saw. lalu bersabda, “Bekerjalah dari balik negeri ini, sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalmu sedikit pun.” (HR Al-Bukhari)

2.    Semua hijrah dilakukan demi fî sabîlillâh, yaitu dalam rangka membela agama Allah. Tidak ada kewajiban hijrah dari Makkah ke Madinah. Rasul Saw. tidak mewajibkan Muslim Makkah hijrah ke Madinah, setelah peristiwa Futuh Makkah.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا

Ibn Abbas  r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada kewajiban hijrah setelah Futuh Makkah, melainkan jihad dan niat, maka jika diseru perang segeralah penuhi panggilan tersebut.” (HR Al-Bukhari)
Setelah Futuh Makkah, berdasarkan hadis ini, hijrah dimanifestasikan dalam memperbaiki kualitas umat dalam segala aspek kehidupannya. Itulah salah satu makna dari jihad dan niat, sebagaimana ditandaskan hadis ini.

3.    Jihad itu bisa dengan fisik dan materi. Dalam pengertiannya sebagai upaya memuliakan Islam, jihad adalah amal yang paling utama.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَرَجُلٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata, “Seorang Arab mendatangi Nabi seraya berkata, ‘Siapakah manusia yang paling utama, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah. Kemudian seorang laki-laki yang menyendiri (memisahkan diri dari manusia lain) di suatu bukit, menyembah Rabb-nya dan meninggalkan manusia karena keburukanya.’” (HR Al-Bukhari)

4.    Surga adalah rahmat Allah yang diperuntukkan bagi siapa saja yang berbuat kebaikan. Dalam hadisnya Rasulullah Saw. bersabda:

تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ فَمَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ وَغِرَّتُهُمْ قَالَ اللَّهُ لِلْجَنَّةِ إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا

“(Suatu saat) surga dan neraka berdebat. Neraka berkata, ‘Padaku orang-orang yang kejam dan sombong.’ Surga berkata, ‘Padaku orang-orang yang lemah (tertindas) dan miskin.’ Kemudian Allah memberi keputusan kepada keduanya, ‘Sesungguhnya engkau, surga, adalah tempat rahmat-Ku. Aku memberi rahmat denganmu kepada siapa saja yang Ku-kehendaki. Dan sesungguhnya engkau, neraka, adalah tempat siksaan-Ku. Aku menyiksa denganmu kepada siapa saja yang Ku-kehendaki; dan bagi setiap kalian berdua Aku akan memenuhinya.’” (HR Muslim)

5.    Allah amat sayang kepada hamba-hamba-Nya, melebihi cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dituturkan oleh Umar ibn Al-Khaththab r.a.:

قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ قُلْنَا لَا وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ فَقَالَ لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Rasulullah Saw. kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah Saw. bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Para sahabat menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR Al-Bukhari).Wallâhu A’lam bish Shawâb.[](YSH)

Check Also

Merenungkan Kembali Makna Fitrah

Sebagai Misi Puasa Ramadhan (Tafsir QS Al-Rûm [30] ayat 30) فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ ...

Setelah Kemenangan datang

Beristighfarlah… (Tafsir QS Al-Nashr Ayat 1-3) إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.