Breaking News

Merenungkan Kembali Makna Fitrah

Sebagai Misi Puasa Ramadhan

(Tafsir QS Al-Rûm [30] ayat 30)

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Al-Rûm [3]: 30)

qwTafsir Kata

Dalam pengertian yang sederhana, istilah fitrah sering dimaknai suci dan potensi. Secara bahasa, fithrah artinya al-khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah. (lihat Lisânul Arab 5/56, Al-Qâmûs Al-Muhîth 1/881) Maknanya juga bisa berarti perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, ciptaan. Menurut M. Quraish Shihab, istilah fithrah diambil dari akar kata al-fithr yang berarti belahan. Dari makna ini lahir makna-makna lain, antara lain pencipta atau kejadian.

Louis Ma’luf dalam Al-Munjid, hh. 619-620 mengatakan bahwa kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah, kejadian, tabiat.
Dalam gramatika bahasa Arab, sumber kata fitrah wazannya fi’lah, yang artinya al-ibtidâ’, yaitu menciptakan sesuatu tanpa contoh. Fi’lah dan fithrah adalah bentuk mashdar (infinitif) yang menunjukkan arti keadaan. Demikian pula menurut Ibn Al-Qayyim dan Ibn Katsir, karena fithr artinya menciptakan, maka fitrah berarti keadaan yang dihasilkan dari penciptaan tersebut. Menurut hadis riwayat Ibn Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafaz fitrah tidak pernah dikemukakan oleh Al-Quran dalam konteksnya selain dengan manusia.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang fitrah, maka secara umum makna fitrah bermacam-macam, di antaranya adalah: fitrah dalam artian kejadian awal, bentuk awal, kemampuan dasar, potensi dasar, suci, agama, ciptaan, dan perangai. Fitrah hanya diperuntukkan bagi manusia. Sedangkan bagi binatang, fitrah sama dengan naluri atau tabiat.

Tafsir Ayat

Dalam Al-Quran kata fitrah disebutkan sebanyak 20 kali, terdapat dalam 17 surah dan dalam 19 ayat, muncul dengan berbagai bentuknya. Ada dalam bentuk fi’l mâdhi, fi’l mudhâri’, ism fâ’il, ism maf’ûl dan ism mashdar. Dalam bentuk fi’l mâdhi sebanyak 9 kali, dimana fitrah berarti menciptakan, menjadikan. Kemudian dalam bentuk fi’l mudhâri’sebanyak 2 kali, yang berarti pecah, terbelah. Dalam bentuk ism fâ’il sebanyak 6 kali yang berarti menciptakan, yang menjadikan. Dalam bentuk ism maf’ûl sebanyak 1 kali yang berarti pecah, terbelah. Dan dalam bentuk ism mashdar sebanyak 2 kali yang berarti tidak seimbang. (Lihat Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur’ân, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, hh. 522-523).

Dari 20 kali penyebutan kata fitrah ini hanya satu ayat yang menunjukkan bentuk fitrah secara jelas, yaitu dalam Surah Al-Rûm ayat 30.

Dalam ayat tersebut Allah Swt. berfirman, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan, bahwa fitrah bermakna kesucian, yaitu kesucian jiwa dan ruhani. Fitrah di sini adalah fitrah Allah yang ditetapkan kepada manusia, yaitu bahwa manusia sejak lahir dalam keadaan suci, dalam artian tidak mempunyai dosa. Sementara Ibn Katsir mengartikan fitrah dengan mengakui keesaan Allah atau tauhid. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibn Katsir bahwa manusia sejak lahir telah membawa tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk mentauhidkan Tuhannya, dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut.

Menurut Nurcholis Madjid, fitrah berarti kejadian asal yang suci pada manusia, itulah yang memberikan kemampuan bawaan dari lahirnya dan intuisi untuk mengetahui yang benar dan yang salah, sejati dan palsu. Pada fitrah, secara inheren terdapat kecenderungan alami manusia dan alam kejadiannya sendiri.\

Adapun menurut Sayyid Quthub, fitrah merupakan jiwa kemanusiaan yang perlu dilengkapi dengan tabiat beragama, antara fitrah kejiwaan manusia dan tabiat beragama merupakan relasi yang utuh, mengingat keduanya ciptaan Allah pada diri manusia sebagai potensi dasar yang memberikan hikmah, mengubah diri ke arah yang lebih baik, mengobati jiwa yang sakit, dan meluruskan diri dari rasa keberpalingan.

Dalam ulasan-ulasan hadis, ada beberapa makna dan pengertian fitrah yang bisa digali.

Pengertian pertama dari fitrah menurut hadis adalah fitrah dengan makna suci. Fitrah dalam pengertian ini, sebagaimana dikatakan oleh Al-Auza’i, adalah kesucian dalam jasmani dan ruhani manusia. Kesucian yang dimaksud adalah sebagaimana dituturkan oleh hadis Rasulullah Saw., “Lima macam dalam kategori kesucian, yaitu berkhitan, memotong rambut, mencukur kumis, menghilangkan kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks pendidikan Islam, fitrah berarti kesucian manusia dari dosa waris, atau dosa asal. Sebagaimana dikatakan oleh Ismail Raji Al-Faruqi, manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dan dapat menyusun drama kehidupannya, tak peduli di lingkungan, masyarakat, keluarga macam apa pun dia dilahirkan. Islam menyangkal setiap gagasan mengenai dosa asal, dosa waris, dan tanggung jawab penebusan, serta keterlibatannya dalam kesukuan nasional ataupun internasional. Jadi, pengertian pertama fitrah menurut Sunnah adalah kesucian (thuhr), yakni kesucian manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. sejak awal, sehingga manusia tidak dibebani dosa warisan atau dosa asal sebagaimana diyakini oleh kaum Nasrani.

Pengertian kedua dari fitrah menurut hadis adalah Islam. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan hadis Rasulullah Saw., “Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang Allah menceritakan kepadaku dalam Kitab-Nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya untuk berpotensi menjadi orang-orang Islam.” Oleh karena itu, anak kecil yang meninggal dunia akan masuk surga, karena ia dilahirkan dengan Islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non-Muslim.

Pengertian ketiga fitrah menurut Sunnah adalah murni (al-ikhlâsh). Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Thabari bahwa manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satu di antaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Pemaknaan ini didukung oleh hadis Rasulullah Saw., “Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah di mana manusia diciptakan darinya, shalat berupa agama, dan taat berupa benteng perniagaan.” (HR Abu Hamid)

Pengertian fitrah yang lainnya menurut Sunnah adalah tabiat alami yang dimiliki manusia. Hal ini sebagaimana dinyatakan hadis Rasulullah Saw., “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali tetap pada fitrahnya, sehingga lidahnya memalingkan padanya.” (HR Muslim dari Muawiyah).

Dari hadis tersebut di atas dapat diketahui bahwa pengertian fitrah tersebut ialah suci atau potensi, dan bahwa manusia lahir dengan membawa perwatakan (tabiat) atau potensi yang berbeda-beda. Watak itu dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubarinya yang dapat mengantarkan kepada makrifatullah. Sebelum mencapai usia baligh, seorang anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir. Akan tetapi, dengan potensi fitrahnya, ia dapat membedakan antara iman dan kafir karena wujud fitrah adalah qalb (hati) yang dapat mengantarkan pada pengenalan kebenaran tanpa terhalang oleh apa pun, sedangkan setan hanya dapat membisikkan kesesatan saat anak telah mencapai usia akil baligh.

Berdasarkan keterangan-keterangan ini, makna fitrah bisa diartikan sebagai potensi untuk menjadi baik dan sekaligus potensi untuk menjadi buruk, potensi untuk menjadi Muslim dan untuk menjadi musyrik. Potensi tersebut tidak diubah. Maksudnya, potensi untuk menjadi baik ataupun menjadi buruk tersebut tidak akan diubah oleh Allah. Fitrah manusia ini dibawa sejak lahir dan terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin berkembangnya akal manusia, dan pada akhirnya manusia akan mengakui bahwa Tuhan itu ada sehingga mereka akan kembali kepada Tuhannya.

Karena itu, di sinilah pentingnya mempertahankan fitrah dan sekaligus mengembangkannya bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Berkembangnya fitrah dalam diri manusia sangat bergantung pada masukan dari wahyu yang mempengaruhi jiwa manusia. Dalam hal ini, baik buruknya fitrah manusia akan tergantung pada kemampuan manusia itu sendiri dalam berinteraksi dengan ajaran Islam.

Fitrah juga merupakan potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian untuk meneriman rangsangan (pengaruh) dari luar untuk mencapai kebenaran dan kesempurnaan. Walaupun fitrah manusia ini bukan satu-satunya potensi yang dimiliki, karena manusia juga memiliki potensi nafsu yang memiliki kecenderungan pada kejahatan, tetapi fitah ini perlu dikembangkan dan dilestarikan.

Fitrah manusia ini dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, apabila mendapat suplai yang dijiwai oleh wahyu. Hal ini tentu harus didorong dengan pemahaman terhadap Islam secara kâffah. Maka, semakin tinggi tingkat interaksi seseorang kepada Islam, semakin baik pula perkembangan fitrahnya.
Wallâhu A’lam bish Shawâb.[](YSH, dari berbagai sumber)

Check Also

Setelah Kemenangan datang

Beristighfarlah… (Tafsir QS Al-Nashr Ayat 1-3) إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ ...

Mengharap Rahmat Allah

(Tafsir Surah Al-Baqarah [2]: 218) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.