Breaking News

Setelah Kemenangan datang

Beristighfarlah…

(Tafsir QS Al-Nashr Ayat 1-3)

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia adalah Maha Penerima tobat.

tasbihPembicaraan dalam Al-Quran yang ditujukan kepada seseorang, adakalanya dikhususkan kepada Nabi Saw. saja, seperti dalam firman-Nya, Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan sesuatu yang Allah menghalalkannya; semata-mata karena mengharapkan keridhaan istri-istrimu? (QS At-Tahrîm [66]: 1). Adakalanya pula ditujukan kepada siapa saja yang memahaminya, seperti dalam firman-Nya, Tidakkah kaulihat orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat? (QS Al-‘Alaq [96]: 9-10). Atau dalam firman-Nya, Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? (QS Al-Mâ’ûn [107]: 1). Dan adakalanya pula, suatu pembicaraan ditujukan kepada pribadi beliau, meskipun dimaksudkan juga bersama dengan para sahabatnya serta orang-orang yang tulus di antara umatnya; seperti pembicaraan dalam Surah Al-Nashr ini.

Pada hari-hari ketika kaum Muslim masih dalam keadaan miskin dan jumlah mereka sedikit, sementara musuh-musuh mereka dalam keadaan kuat dan jumlah mereka jauh lebih banyak, demikian pula tekanan dan gangguan yang dialami mereka sehari-hari makin lama makin bertambah, maka adakalanya mereka merasakan kejenuhan, bahkan hati mereka diliputi kesedihan yang sangat.

Demikikian pula hati Nabi Saw., adakalanya dihimpit rasa sedih dan risau akibat sikap kebanyakan dari kaumnya yang terus-menerus mendustakannya. Sinar kebenaran terbit terang benderang, sementara mereka tetap saja menutup mata. Sedemikian sedihnya beliau, sehingga dalam salah satu firman Allah Swt. kepadanya dinyatakan, Mungkin saja kamu ingin meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya kekayaan, atau datang bersamanya seorang malaikat?” Sungguh, kamu hanyalah pemberi peringatan, dan Allah Mahakuasa atas segalanya (QS Hûd [11]: 12).

Masih ada lagi ayat Al-Quran lainnya, yang menunjukkan bahwa Nabi Saw. dan para sahabatnya seringkali merasa jenuh dan amat risau, akibat penderitaan yang mereka alami. Dan tentunya dapat dimaklumi bahwa dalam kejenuhan dan kerisauan, terasa pula adanya ketidaksabaran menanti datangnya pertolongan Allah bagi Nabi Saw., serta bagi kebenaran yang untuknya Nabi Saw. diutus. Bahkan, dapat menjadikan mereka lupa akan janji Allah untuk memenangkan agama-Nya. Akan tetapi, timbulnya berbagai perasaan seperti itu, tentunya tidak merupakan cacat cela bagi Nabi Saw. Setiap makhluk mana pun tidak mampu mengetahui hal gaib. Hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Maka, wajarlah apabila perasaan jenuh dan risau menimpanya, bahkan membuatnya lupa seperti itu. Dan kesempurnaan tentunya hanya bagi Allah saja. Sebagaimana disebutkan pula dalam firman Allah lainnya, …dan mereka diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Akan tetapi, mungkin saja Allah Swt. akan menilai timbulnya perasaan seperti itu dalam diri Nabi Saw.: aqrab al-muqarrabîn (pribadi mulia yang paling didekatkan kepada-Nya) sebagai suatu ‘kesalahan’ atau ‘dosa’. Sebagaimana dalam ungkapan yang populer: Hasanât al-abrâr sayyi’ât al-muqarrabîn (perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang biasa yang baik-baik, adalah buruk bagi kalangan dari orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

Nabi Saw. sendiri, pada saat menilai dirinya sendiri, dan setelah berhasil keluar dari kesulitan yang ia alami, mungkin menganggap kerisauan dan kecemasan seperti itu sebagai ‘dosa’ yang dilakukannya terhadap Allah Swt. Dan karenanya ia harus bertobat dan memohon ampun atas kerisauan dan kejenuhan yang ia rasakan di hari-hari penuh kesulitan itu.

Namun perintah untuk beristighfar tersebut datang dalam rangkaian kabar gembira, dengan mendekatnya kemenangan dan pertolongan Allah Swt., Apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan… Penggunaan kata idzâ (apabila) di sini menunjukkan keniscayaan akan terjadinya apa yang diberitakan. Yakni, ketika kamu menyaksikan pembelaan Allah bagi agama-Nya yang benar melawan kebatilan, dan Allah memberimu pertolongan sehingga kamu beroleh kemenangan dari kaummu, dan ketika sikap mempertahankan pelbagai kepercayaan batil mereka sudah melemah, dan (ketika itu) kamu menyaksikan manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, yakni agama yang dengannya kamu mendatangi kaummu, demi menyingkap tirai kebatilan amat kuat yang menghalangi antara mereka dan agamamu itu, dan mereka lalu datang kepadamu secara berbondong-bondong, tidak secara perorangan seperti pada masa-masa awal dakwahmu yang penuh dengan kesulitan….

Apabila keadaan seperti itu telah menjadi kenyataan—dan memang pasti ia akan menjadi kenyataan—maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu. Yakni buanglah jauh-jauh persangkaan bahwa Tuhanmu akan menyia-nyiakan kebenaran, dan membiarkannya dikalahkan oleh kebatilan; atau bahwa Ia akan mengingkari janji-Nya untuk mendukung kebenaran itu. Dan hendaklah sikapmu itu kamu wujudkan melalui puji-pujian kepada-Nya, karena Dialah Yang Mahakuasa, yang takkan dikalahkan oleh siapa pun. Dan Dialah Yang Mahabijaksana, yang apabila memberi penundaan hukuman terhadap kaum kafir—dalam rangka menguji jiwa kaum Mukmin—Ia takkan menghapus pahala bagi para pelaku kebajikan, dan takkan menerima baik perbuatan kaum perusak. Dan Dialah Yang Maha Mengetahui semua yang tersimpan dalam hati kaum mukhlishîn maupun kaum munâfiqûn, sehingga takkan terkelabui oleh sikap riyâ’ dari para pencari pujian.

Ayat dan mohonlah ampun kepada-Nya. Yakni, untuk kamu sendiri dan para sahabatmu; karena perasaan jenuh, sedih dan gelisah, yang menguasai kamu sekalian ketika menunggu saat pertolongan Allah dan kemenangan yang tak kunjung tiba. Adapun permohonan ampun tidak akan diterima, kecuali denga tobat yang tulus. Sedangkan pertobatan dari rasa gelisah hanya dapat tercapai dengan menyempurnakan keyakinan bahwa Allah Swt. pasti akan memenuhi janji-Nya. Dan juga dengan memenangkan perasaan keyakinan ini atas segala bisikan hati yang pernah dirisaukan oleh pelbagai kesulitan.

Sikap seperti itu, meskipun amat berat untuk dimiliki oleh jiwa manusia pada umumnya, namun Allah Swt. mengetahui bahwa jiwa Nabi Saw. telah mencapai puncak kesempurnaan, sehingga layaklah ia untuk menerima perintah Allah kepadanya (untuk beristighfar). Demikian pula jiwa para sahabat dan pengikutnya, terutama mereka yang dinilai telah hampir mencapai kesempurnaan. Dan Allah pasti akan menerima hal itu dari mereka, Sungguh, Ia adalah Maha Penerima  tobat. Yakni, di antara sifat-sifat Allah Swt. adalah Maha Penerima tobat, karena Dia adalah Rabb, Tuhan Yang mendidik dan menguji jiwa-jiwa manusia dengan cobaan-cobaan. Dan manakala didapati-Nya jiwa mereka dalam keadaan lemah, maka Ia menimbulkan kembali semangatnya agar mengupayakan kekuatan, dan menguatkan tekadnya dengan menjanjikan kebaikan baginya. Begitulah Allah Swt. terus memperlakukannya seperti itu, sehingga ia mampu mencapai derajat kesempurnaan. Seraya mengikrarkan tobatnya kepada Allah Swt., dari pelaku sebelumnya, pada setiap tingkatan (manzilah) yang dicapainya. Dan Allah Swt. niscaya menerima tobatnya itu, sebab Dialah Yang Maha Penerima tobat.

Dalam hal ini, seakan-akan Allah Swt. menyatakan, apabila telah datang pertolongan Allah, dan kemenangan telah menjadi kenyataan, serta manusia berdatangan untuk memeluk agama kebenaran, rasa takut pun akan lenyap, demikian pula penyebab kesedihan. Maka yang harus dilakukan setelah itu, adalah bertasbih dan bersyukur kepada Allah Swt., dan bertobat kepada-Nya dari segala kebimbangan hati. Kesulitan dan kecemasan takkan datang lagi mencengkam jiwa kaum Mukmin, sementara jumlah mereka sudah sedemikian banyaknya, dalam keikhlasan penuh kepada-Nya.

Dan dari sini pula Nabi Saw. menyadari bahwa tugasnya telah selesai. Dan tidak ada lagi yang harus dilakukan selain ‘berangkat’ menuju Tuhannya tidak lama lagi. Maka bersabdalah beliau, menurut sebuah riwayat, bahwa ‘telah disampaikan kepadanya berita tentang mendekatnya saat kematian dirinya’. Wallâhu a’lam.[](Diterjemahkan dari buku Tafsîr Juz ‘Amma karya Muhammad ‘Abduh)

Pusdai.or.id

Check Also

Merenungkan Kembali Makna Fitrah

Sebagai Misi Puasa Ramadhan (Tafsir QS Al-Rûm [30] ayat 30) فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ ...

Mengharap Rahmat Allah

(Tafsir Surah Al-Baqarah [2]: 218) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.