Breaking News

Lebih Dekat dengan Muslim Rohingya

Myanmar atau dikenal juga dengan Birma adalah salah satu negara berkembang di Asia Tenggara dengan luas wilayah sekitar 680 kilometer persegi. Memiliki populasi penduduk sebesar lebih dari 50 juta jiwa. Dan, di antara mereka terdapat penduduk Muslim dengan jumlah sekitar 7 sampai 10 juta jiwa.

Populasi Muslim di Myanmar ini lebih besar dibandingkan populasi Muslim di Filipina dan Thailand. Separuh dari jumlah populas Muslim Myanmar itu berasal dari Arakan, yaitu sebuah provinsi di sebelah barat laut Myanmar. Arakan berbatasan dengan Bangladesh di sebelah utara, yaitu sepanjang 170 km. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan laut Andaman.

PBB mencatat Rohingya sebagai penduduk Muslim yang tinggal di Arakan, Myanmar. Bahasa yang dipergunakan Rohingya termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, khususnya kerabat bahasa Indo­Arya. Lebih detail lagi, bahasa Rohingya dikategorikan sebagai bahasa-bahasa Chittagonia yang dituturkan oleh masyarakat di bagian tenggara Bangladesh. Sedangkan kebanyakan bahasa di Myanmar tergolong rumpun Tai Kadal, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan. Jadi, ada keterkaitan secara suku bangsa antara kelompok Rohingya dengan etnis Bengali, khususnya sub-etnis Chittagonia yang tinggal di Bangladesh tenggara.

Sebelum bernama Arakan, daerah ini bernama Rohang dan penduduknya disebut Rohingya. Rohingya menjadi sebuah kesultanan Islam tahun 1430 dan dipimpin oleh Sultan Sulaiman Syah yang didukung oleh penduduk Muslim Bangladesh. Nama Rohingya sendiri akhirnya diganti menjadi Arakan untuk menegaskan identitas keislaman mereka. Arakan adalah bentuk plural dari ‘rukun’ yang berarti tiang/pokok.

Arakan sendiri telah berdiri sebagai sebuah kesultanan sebelum Myanmar berdiri sebagai sebuah negara sebagai persemakmuran Inggris tahun 1948. Para sejarahwan menerangkan bahwa Islam masuk ke wilayah ini sejak tahun 877 Masehi, yang bertepatan dengan kekhalifahan Harun Al­Rasyid.

Kesultanan Islam berdiri di Arakan selama sekitar tiga setengah abad lamanya, yaitu antara 1430 sampai 1784 M. Sejak sekitar abad ke-7, Arakan sudah menjadi tempat persinggahan para saudagar Arab, Moor, Turki, Moghuls, dan Bengal. Bahkan, para pelaut dari daerah-daerah tersebut ada juga yang datang sebagai prajurit dan agamawan. Pesisir pantai Arakan kala itu menjadi pusat perdagangan dan perbaikan kapal mereka.

Pada masa-masa inilah Islam masuk ke Myanmar melalui Arakan. Seiring berjalannya waktu, Arakan menjadi pusat perniagaan dan kegiatan yang ramai. Lewat interaksi ekomomi ini agama Islam tersebar.

Hingga memasuki abad ke-17, aktifitas dagang kaum Muslim mencapai puncak-puncaknya bahkan untuk kawasan Asia Tenggara. Praktis, sepanjang pesisir Arakan dan sekitarnya, dari Mergui hingga Ayutthaya dipimpin oleh kaum muslimin.

Lantas bagaimana dengan kekerasan berbau SARA yang saat ini menimpa kaum Muslim Rohingya? Sebagaimana diketahui bahwa pemerintah Myanmar tidak mengakui kewarganegaraan kaum Muslim Rohingya, meski mereka sudah berada di Arakan sejak lama bahkan sejak negara Myanmar sendiri berdiri.

Konflik yang menimpa kaum Rohingya sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu, khususnya sejak 1748 ketika penduduk dari luar wilayah Arakan yang beragama Budha mulai melakukan penyerangan ke wilayah Arakan yang berpenduduk Muslim. Disinyalir bahwa konflik ini muncul akibat kesenjangan sosial dan ekonomi di mana saat itu kaum Muslim berkehidupan lebih sejahtera karena aktivitas perniagaan mereka.

Konflik semakin meruncing sekitar 1911 ketika Inggris berkuasa. Saat itu penduduk Muslim di daerah Arakan berkisar 58 ribu orang. Penguasa Inggris merasa perlu menambah penduduk di daerah ini untuk meningkatkan aktivitas pertanian. Inggris pun membawa sebagian orang Muslim dari Bengal (Bangladesh) yang menyebabkan populasi Muslim meningkat secara signifikan. Namun, diam-diam meningkatnya populasi Muslim ini dipandang ancaman oleh penduduk lokal di luar Arakan.

Pasca penguasaan Inggris yang disusul kemudian dengan kudeta militer oleh Jenderal Ne Win, intimidasi semakin kencang menimpa kaum muslimin Rohingya, bahkan disertai dengan pembantaian sehingga populasi Muslim mengalami penyusutan dan sebagian yang lain diusir. Pengusiran ini terjadi karena Muslim Rohingya dianggap sebagai warga negara ilegal, meski secara historis mereka sudah lebih dahulu ada di Arakan sebagai sebuah komunitas masyarakat, jauh sebelum Myanmar berdiri.

Sampai kini, di era demokrasi dan penjunjungan tinggi terhadap Hak Asasi Manusia, Muslim Rohingya masih mengalami penindasan sedemikian rupa. Bahkan, dalam catatan PBB, Muslim Rohingya menjadi kelompok paling terbengkalai di dunia. Semoga penderitaan Muslim Rohingya segera berakhir dan kaum Muslim di dunia khususnya serta umat manusia pada umumnya, peduli dan berempati pada keselamatan mereka.[](Rashid, dari berbagai sumber)

Check Also

Geliat Islam di Chille

Copa Amerika dengan Chili sebagai tuan rumahnya baru saja usai. Di balik ingar bingar dunia ...

Cahaya Islam di Papua Nugini

Papua Nugini, sebuah negara di sebelah timur Indonesia, berbatasan langsung di sebelah barat dengan Papua ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.