Breaking News

Abdullah ibn Mas’ud:

Dari Pembantu Menjadi Guru

Untitled-1Adalah konskuensi logis pada saat berdakwah lalu kemudian mendapat tantangan, rintangan, dan ancaman. Dan Inilah yang menyebabkan Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah pada 622 Masehi atau 1393 tahun silam. Tentu saja, Abdullah ibn Mas’ud, sosok yang senantiasa menyertai Rasulullah Saw. pun ikut hijrah hingga kemudian beliau sengaja membangun rumahnya pun berdekatan Rasulullah Saw., tepatnya di belakang Masjid Nabawi.

Dalam kehidupannya seolah beliau mengabdi, menjadi sosok yang men-support operasional Rasulullah Saw. dalam berdakwah, yang hari-harinya hampir selalu bersama beliau. Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa di antara para pembantu Rasulullah Saw. yang selalu mengabdi adalan Abdullah ibn Mas’ud r.a.

Ibn Sa’ad berkata, “Kalau  Rasulullah Saw. mandi dia menutupinya, kalau tidur dia membangunkannya, kalau mau jalan dia yang memakaikan sandalnya, kemudian dia jalan berjalan dengan tongkatnya. Kalau Rasulullah Saw. mau duduk, dialah yang membuka sandalnya, lalu mengapitnya di tangan, kemudian tongkatnya diberikan kepadanya. Kalau Rasulullah Saw. mau bangun dia segera mengenakan kedua sandalnya, lalu berjalan di hadapannya hingga ke tujuannya.”

Inilah yang dilakukan Abdulullah ibn Mas’ud r.a. selama Rasulullah Saw. masih ada. Padahal, pada saat itu betapa banyak sahabat yang ingin seperti Abdullah ibn Mas’ud. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Dia bisa menemuinya saat kita tak bisa dan dia bisa menemaninya saat kita tak hadir.”

Kedekatannya dengan beliau mengundang sahabat lainya mengomentari, seperti Abu Musa Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa, “Aku tidak pernah melihat Nabi Saw. dan Ibn Mas’ud melainkan seperti satu keluarga.”

Ada kisah menarik tentang sahabat Nabi yang termasuk Assabiqunal Awwalun ini. Pada suatu hari Abdullah ibn Mas’ud diminta oleh Rasulullah Saw. membacakan ayat Al-Quran di hadapannya. Tentu saja Abdululah ibn Mas’ud menolak, karena baginya tentu Nabi Saw. yang lebih hebat. Akan tetapi, akhirnya dia membacakannya sampai-sampai Nabi Saw. pun meminta untuk menghentikannya lalu kemudian menangis. Nabi merasa tidak kuat betapa ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Abdullah ibn Mas’ud telah menyentuh hatinya.

Bila kita kaji lebih jauh, rupanya kepintaran Abdullah ibn Mas’ud tak hanya dari sisi membacanya, tapi kepiawainan dalam bidang tafsir pun telah diakui oleh semua pihak. Bahkan, bisa dikatakan dia merupakan salah seorang tokoh yang punya otoritas besar dalam memahami Al-Quran. Dalam sebuah riwayat, setidaknya, tercatat 70 surah Al-Quran yang dipelajari Ibn Mas’ud dari Nabi Saw.

Tanpa menyombongkan diri, sosok penghafal Al-Quran yang terbaik pada zaman Nabi  Saw. ini pernah berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan di samping-Nya, tak ada satu ayat pun dalam Al-Quran yang tidak saya ketahui. Demi Allah, jika ada orang yang pemahamannya tentang Al-Quran lebih baik daripada saya, maka saya akan belajar dengan sungguh-sungguh kepadanya.”

Munculnya ucapan Ibn Mas’ud ini membuktikan betapa dia sangat menguasai isi Al-Quran dan semangatnya memberi motovasi kepada orang-orang di sekelilingnya agar belajar Al-Quran. Kehebatannya ini telah direkam oleh Rasullullah Saw. dengan mewajibkan agar umat Islam mengikuti jejak hidayah Ibn Mas’ud dan kesungguhannya berpegang teguh kepada pesan-pesan yang telah beliau ajarkan. Bahkan, saking salutnya Rasulullah Saw. kepada Ibn Mas’ud, beliau bersabda, “Aku ridha kepada umatku sesuai yang diridhai Ibn Ummu ‘Abd (Abdullah ibn Mas’ud) dan tidak senang kepada umatku sesuai yang tidak disenangi Ibn Ummu ‘Abd.”

Karena konsistensinya itu Ibn Mas’ud tetap mengabdi untuk Islam, meskipun Rasulullah Saw. telah wafat. Khalifah Umar ibn Khaththab r.a. telah mengutus Ibn Mas’ud pergi ke Kufah untuk menjadi guru agama, padahal pada zaman itu kondisi perpolitikan di Kuffah sedang kacau-kacaunya. Umar ibn Khaththab r.a. membuat surat yang menyebutkan dalam suratnya, “Saya telah mengirimkan Ammar bin Yasir sebagai Amir (kepala pemerintahan) dan Abdulullah ibn Mas’ud sebagai guru dan wakilnya, keduanya termasuk sahabat Rasulullah Saw. yang dimuliakan dan tergolong veteran Perang Badar. Karena itu, patuhilah perintahnya, dengarlah ucapannya, dan teladani tingkah lakunya. Saya sengaja mengirimkan keduanya untuk kalian, padahal aku membutuhkannya.”

Di Kufah, Abdullah ibn Mas’ud termasuk sosok yang berhasil dalam mengajar, kekuatan ilmu psikologi yang dimilikinya membuat dakwahnya menjadi lancar. Di sanalah Abdullah ibn  Mas’ud menjadi guru, sosok yang memutuskan sebuah persoalan, mengajarkan tentang keilmuan, dan mengawasi gerak langkah murid-muridnya. Dalam catatan sejarah, tertulis selama enam priode pemerintahan Ibn Mas’ud menjadi guru di sana, dari mulai Ammar ibn Yasir, Mughirah ibn Syu’bah, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Al-Walid ibn Uqbah, Sa’id ibn ‘Ash, hingga pemerintahan Abu Musa Al-Asy’ari.

Lelaki cerdas dan pemilik lengan kekar ini pada masa Nabi Saw. termasuk orang mengumpulkan wahyu-wahyu Al-Quran yang kemudian dia lanjutkan sepeninggal Nabi. Di Kufah inilah dia juga berhasil memaparkan pengaruh mushafnya di kalangan penduduk kota tersebut, yang dikenal dengan Mushhaf Ibn Mas’ûd.
Akhirnya, sosok yang tercatat sebagai orang yang pertama mengajarkan qira’ah Al-Quran ini tutup usia pada 63 tahun di kota Madinah pada 32 hijriah dan dimakamkan di Baqi’. Albudullah ibn Mas’ud adalah teladan kita, dari biasa menjadi luar biasa, dari pembantu yang kemudian berubah menjadi guru.

Wallâhu A’lam[](Guh)

Check Also

Al-Farabi: Muslim Peletak Dasar Ilmu Filsafat

Sosok dan pemikiran Al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Namanya adalah Muhammad ibn Muhammad ...

Abu Dzar Al-Ghifari: Sosok Sederhana, Pelayan Kaum Dhuafa

Kepeduliannya yang tinggi, semangat solidaritasnya yang kuat, dan keberaniannya dalam membongkar penguasa penumpuk harta, adalah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.