Breaking News

Abu Dzar Al-Ghifari: Sosok Sederhana, Pelayan Kaum Dhuafa

Kepeduliannya yang tinggi, semangat solidaritasnya yang kuat, dan keberaniannya dalam membongkar penguasa penumpuk harta, adalah bagian dari identitasnya selama hidupnya. Sosoknya yang rendah diri dan selalu merasa cukup, itu pula yang membuat dirinya tak pernah bosan menjadi pelayan kaum dhuafa hingga akhir hayatnya.
Selama hidupnya, kapan pun dan dimana pun, ia selalu mengkampanyekan tentang perjuangan hak-hak kaum fakir dan miskin. Pesannya yang selalu ia ulang-ulang adalah ucapan, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat!”
Ia adalah Abu Dzar Al-Ghifari, sosok sahabat yang memiliki nama asli Jundub ibn Junadah ibn Sakan. Ia adalah sahabat Rasulullah Saw. yang lahir dari kelompok Assabiqunal Awwalun (orang yang petama-tama masuk Islam). Sebuah riwayat menyebutkan Abu Dzar adalah kaum muslimin yang masuk urutan kelima atau keenam yang bergabung dengan Rasulullah Saw.
Pada masa jahiliyah, Abu Dzar Al-Ghifari adalah sosok yang selalu mencari kebenaran sebelum kebenaran (Islam) itu sendiri muncul pada saat itu, sehinga tak heran apabila dia adalah orang yang dikenal sebagai penghancur berhala. Masuk Islamnya pun unik, tak diiming-imingi surga dan neraka, ia masuk Islam karena rasa penasarannya atas berita yang selama ini tersebar di daerahnya, bahwa di kota Makkah muncul seorang yang mengaku sebagai utusan Allah.
Singkat cerita, akhirnya Abu Dzar bertemu dengan Rasulullah Saw. hingga kemudian ia menyapa, “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa.”
Waalaikumsalam, wahai sahabat,” jawab Rasulullah Saw.
“Bacakanlah kepadaku hasil gubahan Anda!”
Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi Al-Quran yang mulia,” kata Rasulullah Saw., yang kemudian membacakan wahyu Allah Swt.
Tak berselang lama, Abu Dzar berseru, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan utusan-Nya.”
“Anda dari mana, kawan sebangsa?” tanya Rasulullah Saw.
“Dari Ghifar,” jawabnya.
Rasulullah pun tersenyum, begitu pun Abu Dzar. Keduanya sama-sama senang, terlebih Rasulullah Saw. kagum karena pada saat genting seperti itu ada  orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara sukarela. Ia adalah seorang laki-laki dari Ghifar.
Bani Ghifar adalah kabilah Arab suku Badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Tak heran apabila penduduk di sini terkenal gemar berjalan dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Bani Ghifar terkenal pula sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan.
Mungkin ini juga yang membuat sahabat Rasulullah Saw. yang lain salut dan kagum terhadap Abu Dzar yang masuk Islam secara sukarela. Padahal, Bani Ghifar sendiri sangat popular dengan orang-orangnya yang suka merampok, senang berperang, dan hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan.
Yang lebih menarik, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Dzar Al-Ghifari adalah sosok yang memiliki latar belakang kelam, yakni seorang perampok yang mewarisi kareir ayahnya selaku pemimpin besar perampok kafilah yang melalui jalur perdagangan Makkah-Syiria. Jalur ini telah dikuasai oleh suku Ghifar.
Akan tetapi, keadaan ini tidak berlangsung lama. Hati kecilnya selalu tak menerimanya, hingga muncullah pergolakan batin dalam dirinya yang kemudian menjadikan Abu Dzar sadar dan kemudian meninggalkan perbuatan tercela tersebut.
Pilihan yang diambil oleh Abu Dzar membuat semua orang di sekelilingnya marah dan kemudian memusuhinya, sementara Abu Dzar sendiri semakin kuat dengan pendiriannya, ia perhatian kepada orang-orang yang lemah dan selalu membantunya. Pada waktu yang bersamaan ia pun mendapatkan kabar adanya orang yang mengaku utusan Allah di kota Makkah.
Dan benar, setelah Abu Dzar masuk Islam, selain berdakwah dengan keberaniannya, ia juga selalu membela kaum-kaum lemah di sekelilingnya. Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum dhuafa ia pegang di mana pun ia berada. Sepeninggal Rasulullah Saw. pun sikapnya tak berubah, ia tak henti-hentinya mengajarakan kesederhanaan dan menyayangi kaum dhuafa. Ia juga selalu kritis terhadap orang-orang kaya, apalagi yang menggunakan uang negara.
Sebelum Rasulullah Saw. meninggal, Abu Dzar pernah pernah ditanya oleh Rasulullah Saw., “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk diri mereka?”
Ia menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran. Saya akan tebas mereka dengan pedangku!”
“Maukah kau kutunjukkan jalan yang lebih baik dari itu? Bersabarlah hingga kau menemuiku!”
Dengan pesan seperti ini, Abu Dzar pun tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu lembut dalam memerangi penguasa Islam saat itu. Sampai akhir hayatnya, ia dikenal sebagai sahabat yang menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan. Abu Dzar mengakhiri hidupnya di tempat sunyi bernama Rabadzah, pinggiran Madinah.
Pada bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini, kita bisa belajar dari sosok Abu Dzar, dengan menjadi seorang yang menyayangi kaum dhuafa, memiliki sikap rendah hati, dan merasa cukup dengan yang kita miliki.
Wallâhu A’lam bish Shawâb.[](Guh)

Check Also

Abdullah ibn Mas’ud:

Dari Pembantu Menjadi Guru Adalah konskuensi logis pada saat berdakwah lalu kemudian mendapat tantangan, rintangan, ...

Al-Farabi: Muslim Peletak Dasar Ilmu Filsafat

Sosok dan pemikiran Al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Namanya adalah Muhammad ibn Muhammad ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.