Breaking News

Al-Farabi: Muslim Peletak Dasar Ilmu Filsafat

Al-FarabiSosok dan pemikiran Al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Namanya adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Uzlagh ibn Tharkhan. Al-Farabi lebih dikenal dengan sebutan Abu Nashr Al-Farabi. Al-Farabi merupakan keturunan Turki. Dia dilahirkan di Tranxosiana (sekarang Khazastan), dekat Farab, di Turki. Al-Farabi menetap di kampung halamannya sampai usia lima puluh tahun. Di Barat Al-Farabi dikenal dengan Alfarabius.
Ayah Al-Farabi adalah seorang tentara yang miskin. Dia pergi bersama Al-Farabi ke Bagdad. Al-Farabi pun menimba ilmu pengetahuan di Bagdad. Dia belajar bahasa Arab dari Ibn Siraj dan logika (mantiq) kepada Ibn Siraj Matius. Al-Farabi menguasai bahasa Yunani serta bahasa-bahasa Timur lainnya seperti Turki, Persia, dan Suryani.
Kemudian, Al-Farabi pergi ke Damaskus. Di sana dia bekerja sebagai buruh kebun. Namun, pada waktu itu waktu Al-Farabi banyak dihabiskan untuk menulis dan melakukan penelitian.
Al-Farabi lalu pergi ke Halab (Alepo). Di sana Al-Farabi mendapatkan kehormatan dari khalifah Dinasti Hamdan ketika itu, Saif Al-Daulah. Dia pun mendapatkan ilmu dari berbagai sarjana besar dalam bidang aritmatika, fisika, kimia, medis, astronomi, dan musik.
Kemudian, dari Halab, Al-Farabi pergi ke Kairo dan kembali lagi ke Damaskus hingga meninggal di sana pada bulan Rajab tahun 339 Hijriah.
Di bidang filsafat, Al-Farabi diberi julukan al-mu’allim al-tsânî (guru kedua) setelah Aristoteles diberi julukan al-mu’allim al-awwal (guru pertama). Julukan tersebut diberikan karena Al-Farabi mengomentari karya-karya Aristoteles. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Al-Farabi dianggap sebagai orang pertama yang menciptakan metodologi ensiklopedi. Di dalam bukunya yang berjudul Ihshâ’ Al-‘Ulûm, Al-Farabi menulis tentang ilmu-ilmu sosial yang ada di zamannya. Di dalam bukunya yang berjudul Al-Nakt fî mâ Yusihh wa mâ lâ Yusihh min Ahkâm Al-Nujûm, Al-Farabi menolak pemahaman khurafat tentang perbintangan. Al-Farabi tidak setuju dengan orang yang berpendapat bahwa planet bisa membawa kesialan dan keberuntungan. Namun, Al-Farabi berpendapat bahwa bintang-bintang bisa dipelajari dengan ilmu pengetahuan.
Dalam musik, Al-Farabi telah membuat istilah-istilah musik yang sampai dengan saat sekarang masih digunakan. Sebagian ilmuwan Barat ada yang menganggap bahwa karya musik yang ditulis oleh Al-Farabi mengandung sebagian isyarat logaritma. Bahkan, sebagian orang pun ada yang menyamakan pemikiran Al-Farabi tentang gravitasi dengan pemikiran Einstein.
Inti pemikiran filsafat Al-Farabi ditulis di dalam karyanya yang berjudul Ârâ’ Ahl Al-Madînah Al-Fâdhilah (Berbagai Pemikiran tentang Penduduk Peradaban Utama). Di dalam bukunya tersebut, Al-Farabi tidak hanya menulis tentang pemikiran politik, tetapi menjelaskan tentang berbagai pemikiran penduduk al-madînah al-fâdhilah, seperti pemikiran tentang hal yang ada di balik alam, keyakinan terhadap Allah dan Nabi, serta kehidupan awal dan akhir. Al-Farabi pun menjelaskan tentang sistem moral penduduk al-madînah al-fâdhilah, baik sebagai individu, jamaah, hubungan dengan penguasa, serta hubungan antara penguasa dan rakyat. Kemudian, Al-Farabi menjelaskan tentang sebab-sebab kehancuran peradaban dan reaksi yang menyertainya. Buku Al-Madînah Al-Fâdhilah adalah karya terakhir yang ditulis oleh Al-Farabi.
Namun, meskipun begitu, beberapa pemikiran Al-Farabi tidak lepas dari kritikan. Di antara pemikiran-pemikiran tersebut adalah: mengambil teori emanasi Plato, manusia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna di dunia, kenabian bisa didapatkan dan memiliki khayalan tertentu, dan lain sebagainya. Al-Farabi menulis banyak buku. Ada sekitar seratus buku yang telah ditulis olehnya. Namun, mayoritas buku tersebut hilang karena berbagai serangan yang menerpa kota-kota besar Islam seperti Bagdad dan yang lainnya.
Kehidupan sufi yang dijalaninya membuatnya tetap hidup sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karier filsafatnya. Ia tutup usia di Damaskus pada 970 M. Amir Saif Al-Daula kemudian membawa jenazahnya dan menguburkannya di Damaskus. Ia dimakamkan di pemakaman Bab Al-Shaghir yang terletak di dekat makam Muawiyah, yang merupakan pendiri dinasti Ummayah.[](YSH, dari berbagai sumber)

Check Also

Abdullah ibn Mas’ud:

Dari Pembantu Menjadi Guru Adalah konskuensi logis pada saat berdakwah lalu kemudian mendapat tantangan, rintangan, ...

Abu Dzar Al-Ghifari: Sosok Sederhana, Pelayan Kaum Dhuafa

Kepeduliannya yang tinggi, semangat solidaritasnya yang kuat, dan keberaniannya dalam membongkar penguasa penumpuk harta, adalah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.