Breaking News

Kiat Memperoleh Haji Mabrur

05Oleh: H. Dendi Abdul Aziz, MSI.

Pengertian Haji Mabrur

Secara bahasa mabrur berasal dari kata barra-yabirru-barran yang artinya taat berbakti. Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia terlengkap karangan Ahmad Warson Munawwir terbitan Pustaka Progressif Surabaya dijelaskan kata-kata albirru artinya ketaatan, kesalehan atau kebaikan. Dengan demikian haji mabrur artinya haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. Hal ini seperti dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibn Hajar al- ‘Asqalani dalam kitab Fathul Baarii syarah Bukhori.

Pendapat lain yang menguatkan dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam syarah Muslim: “Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah SWT, yang tidak ada riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.” Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad SAW bersabda: alhajjul mabruuru laisa lahu jazaa-un illal jannah yang artinya, “Haji yang mabrur tiada balasan kecuali surga.’’ (HR. Bukhari dan Muslim).

Petunjuk Rasulullah saw. dalam Menggapai Haji Mabrur

Pada hakikatnya, hanya Allah lah yang menentukan dan mengetahui diterima dan tidaknya haji yang telah ditunaikan. Namun demikian, melalui penjelasan yang bersumber dari Rasulullah SAW, setidaknya menjadi penguat bagi kita untuk lebih berharap kepada Alah SWT agar ibadah haji yang kita tunaikan menjadi haji mabrur. Petunjuk Rasulullah Saw sebagaimana dijelaskan dalam hadis-Nya dalam menggapai haji mabrur antara lain:

Pertama, tunaikanlah ibadah haji dengan motivasi dan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Kedudukan niat dalam setiap ibadah dalam Islam menempati posisi yang sangat penting, bahkan niat menjadi penilaian dari setiap arah dan tujuan ibadah yang kita yang tunaikan. Penegasan dan pelurusan niat yang benar-benar harus ditujukan dalam rangka mencapai ridha Allah SWT secara ekplisit dijelaskan dalam firman-Nya: “Dan tidaklah mereka disuruh kecuali melainkan untuk menyembah Allah SWT. dan mengikhlaskan agama (semata-mata) karena Allah.” (QS. Al- Bayyinah: 5)

06Penegasan niat di atas dikuatkan lagi oleh Rasulullah SAW, yang dijelaskan dalam sabdanya: “Sesungguh setiap perbuatan tergantung dari niatnya dan masing-masing mendapat pahala dari niatnya itu.” (Muttafaq’ Alaih). Oleh karena haji harus benar-benar diniatkan karena Allah SWT. Apalagi haji ini, sangat sarat dengan perasaan riya’ dan sum’ah, mengingat tidak semua orang dapat menunaikan ibadah ini, seperti halnya ibadah-ibadah lainnya.

Kedua, segala biaya dan nafkah yang digunakan untuk menunaikan ibadah haji haruslah benar-benar bersumber dari yang halal. Apa sebenarnya yang ingin kita capai dari pelaksanaan ibadah haji? Jawabannya tentu saja ingin menyempurnakan sesuatu yang prinsipil dalam keislaman kita, sehingga kita termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah. Jadi, apa artinya haji yang akan kita tunaikan, jika ternyata bukan mendekatkan diri kita kepada Allah. Setiap ibadah yang kita tunaikan dengan biaya yang bersumberkan dari yang haram, tidak akan bernilai di sisi Allah SWT dengan kata lain ibadah hajinya akan ditolak (mardud).

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW: ”Jika seseorang pergi menunaikan haji dengan biaya dari harta yang halal dan kemudian diucapkannya, “Labbaikallaahumma labbaik ( ya Allah, inilah aku datang memenuhi panggilan-Mu). Maka berkata penyeru dari langit: “Allah menyambut dan menerima kedatanganmu dan semoga kamu berbahagia. Pembekalanmu halal, pengangkutanmu juga halal, maka hajimu mabrur, tidak dicampuri dosa.”

Sebaliknya, jika ia pergi dengan harta yang haram, dan ia mengucapkan: “Labbaik”. Maka penyeru dari langit berseru: “Tidak diterima kunjunganmu dan engkau tidak berbahagia. Pembekalanmu haram, pembelanjaanmu juga haram, maka hajimu ma’zur (mendatangkan dosa) atau tidak diterima.” (HR. Thabrani).

Ketiga, Melakukan manasik hajinya dengan meneladani manasik haji Rasulullah saw. Sebagaimana sabdanya: “Hendaklah kamu mengambil manasik hajimu dari aku.” (HR. Muslim). Alangkah baiknya, jika setiap kita yang ingin menunaikan ibadah haji ini, terlebih dahulu mempelajari dengan sebaik-baiknya manasik haji Rasulullah SAW. Manasik haji ini sangat menentukan mabrurnya haji kita atau tidak, dan manasik haji yang tepat dan benar adalah manasik hajinya Rasulullah SAW.

Keempat, Ibadah haji yang ditunaikan harus mampu memperbaiki akhlak dan tingkah laku. Sesudah kembali dari tanah suci, dan dapat menyelesaikan manasik hajinya secara sempurna, mulai dari berihram di miqat yang telah ditentukan, thawaf mengelilingi  baitullah, sa’i antara Shafa dan Marwah, wuquf di ‘Arafah, dan mabit di Muzdalifah.

07Melontar jumrah dan bermalam di Mina, thawaf ifadlah dan akhirnya thawaf wada’ ketika hendak meninggalkan kota Mekah, sesuai dengan kitabullah dan petunjuk Rasulullah SAW (tidak rafats, tidak fusuq dan tidak bertengkar/bermusuhan), maka itu semua menjadi sarana untuk merefungsionalisasikan tujuan hidup kita agar kembali kepada fitrah yang sebenarnya, yakni menjadi manusia yang memiliki akhlak yang terpuji. Kita harus mengingat bahwa tujuan ibadah dalam Islam, tidak terkecuali ibadah haji adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Upaya pendekatan ini sekaligus mensucikan jiwa kita menjadi jiwa yang bersih. Sehingga dengan jiwa yang bersih akan melahirkan perilaku dan akhlak yang mulia. Ibadah haji yang membentuk perilaku akhlak terpuji ini diukur dengan peningkatan amal-amal kebajikan yang kita lakukan, baik terhadap Allah SWT secara vertikal dan hubungan sesama manusia secara horizontal.

Pendapat Para Tokoh Ulama

Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Prof Dr Said Agil Siradj, kemabruran akan dicapai disamping melaksanakan haji sesuai dengan aturan syariat yang memenuhi syarat dan rukunnya, dia juga mengerjakan ibadah haji dengan ikhlas. ”Semata-mata karena Allah SWT, dan bukan karena alasan yang lainnya,” ujarnya. Kiai asal Cirebon Jawa Barat ini menyebutkan, sepulang dari Tanah Suci ia akan mendapatkan ketenangan dan tuma’ninah hawa nafsunya. “Jadi, pola pikirnya tidak hanya melulu terdorong oleh nafsu angkara murka, egois, bergelimang kemewahan, dan kepuasan. Walaupun di dalam hati penuh memikirkan segala macam kehidupan dunia tapi ada ruang untuk zikir kepada Allah untuk mendapatkan tempat yang haq,’’ ujarnya.
Selain itu, sambung Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, mereka yang meraih predikat haji mabrur juga senang membaca Alquran dan gemar shalat berjamaah. “Salah satu tanda kemabruran hajinya adalah dia melakukan apa yang telah dilakukan selama menunaikan haji.”

Pandangan serupa diungkapkan ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) KH. Kholil Ridwan. Kiai Kholil menyebutkan, haji mabrur niatnya harus suci, betul-betul lillahi ta’ala menjalankan rukun Islam kelima bukan karena yang lain. Ketika melaksanakan ibadah haji masuk ke Tanah Suci dia juga suci lahir batin. Selama melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, mereka pun tidak melakukan rafats, fusuq, dan jidal. Rafats bukan sekadar hubungan seksual tapi termasuk bicara yang porno, matanya juga harus dijaga. Fusuk adalah perbuatan fasik yang maksiat. Misalnya membicarakan kejelekan orang lain atau mengadu domba. Dan jidal artinya berkelahi. ”Pokoknya selama di Tanah Suci, mereka bisa menahan hawa nafsu untuk tidak menimbulkan amarah orang sehingga dia harus banyak menerima sabar.”

08Sementara Prof. Dr. KH Miftah Faridl, seperti dalam bukunya yang berjudul Antar Aku ke Tanah Suci terbitan Gema Insani Press mengungkapkan, haji mabrur dapat terlihat setelah pulang haji. ”Ia menjadi gemar melaksanakan ibadah-ibadah sunnah dan amal saleh lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan-perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat,” ujarnya. Haji mabrur juga aktif berkiprah dalam memperjuangkan, mendakwahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar makruf dengan cara yang makruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara yang munkar. Sifat dan sikapnya berubah menjadi terpuji. “Orang yang bergelar haji mabrur akan malu kepada Allah SWT untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Ia terlihat semangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam,” tambahnya.
Ketua MUI Jawa Barat ini pun menambahkan, orang yang hajinya mabrur akan cepat melakukan tobat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa, dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa. Terakhir, orang yang hajinya mabrur akan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain dan menegakkan ’izzul Islam wal Muslimin, kemuliaan Islam dan umatnya.

Semoga semua jamaah haji yang berangkat pada tahun 1434 H ini diterima ibadahnya oleh Allah SWT., mendapat predikat haji mabrur dan dapat membawa perubahan kepada masyarakat dan bangsa ini menjadi lebih baik.  Aamiin

Check Also

Semarak Wisata Ramadhan 1437 H

Dalam rangka menyemarakan Ramadhan 1437 H, PUSDAI Jabar dan Pesona Indonesia akan mempersembahkan Pertunjukan Wayang ...

Jadwal Semarak Pesona Ramadhan

Untuk mendownload Jadwal Pesona Semarak Ramadhan 2016 H Versi PDF silahkan Klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published.