Breaking News

Keadilan :

Dalam Renungan

neracaAda satu kisah yang sangat masyhur dalam khazanah prinsip hukum dan keadilan agama kita. Sebuah kisah yang terjadi setelah peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Makkah. Kisah ini diriwayatkan oleh istri baginda Nabi Saw., Siti Aisyah r.a.

Seorang wanita yang memiliki kedudukan terhormat dari Bani Makhzumiyah, sebuah kabilah terpandang di dalam suku Quraisy, telah mencuri. Untuk menutupi aib dan rasa malu mereka, para pemuka dari Bani Mahzumiyah meminta tolong kepada Usamah ibn Zaid agar berbicara kepada Rasulullah Saw. supaya tidak melanjutkan kasus pencurian ini.

Namun apa daya, upaya yang dilakukan Usamah tidak membuahkan hasil. Malah justru mengundang rasa tidak berkenan dari Rasulullah Saw. Roman wajah Rasulullah Saw. seketika berubah mendengar penuturan Usamah. Kemudian, Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah engkau hendak meminta pertolongan untuk melanggar hukum Allah ‘Azza wa Jalla?”
Melihat reaksi Rasulullah Saw. ini, Usamah pun segera menyadari kekhilafannya kemudian berkata, “Ya Rasulullah, mohonkanlah ampunan kepada Allah untukku.”

Sore harinya, Rasulullah Saw. menyampaikan sebuah khutbah di hadapan kaum muslimin, “Inilah kebiasaan buruk yang telah menghancurkan umat-umat terdahulu. Mereka binasa (diadzab oleh Allah) karena mereka tidak berani menghukum orang-orang terpandang dari kalangan mereka. Sebaliknya, mereka menghukum berat orang-orang kecil. Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, jika Fathimah, putriku, mencuri, pastilah aku potong tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kesetaraan di hadapan hukum. Itulah salah satu nilai yang bisa kita petik dari kisah ini. Tidak ada satu golongan masyarakat yang berhak mendapatkan perlakuan istimewa di hadapan hukum hanya karena kedudukannya yang tinggi, baik dari segi ekonomi, sosial, pendidikan bahkan politik.

Nilai ini nampaknya selalu relevan untuk selalu terus diangkat kembali, termasuk pada masa kita hari ini. Fenomena hukum yang tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah, sudah terjadi sejak lama. Orang yang kaya raya bisa “membeli” hukum dengan cara menyuap aparat hukum. Orang yang kuat secara politik bisa menekan aparat hukum sehingga leluasa melakukan pelanggaran hukum. Sedangkan terhadap orang yang lemah, baik secara ekonomi, sosial maupun politik, hukum terlihat dalam wajahnya yang sangat tegas dan kokoh.

Inilah hal yang teramat dibenci oleh Rasulullah Saw. Islam tak mengenal dikotomi apalagi diskriminasi manusia di hadapan hukum. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam ucapannya, “Demi Allah, jika Fathimah, putriku, mencuri, aku yang akan memotong tangannya!”

Bahkan, kesetaraan di hadapan hukum tidak hanya atas strata sosial, ekonomi, politik saja. Kesetaraan di hadapan hukum juga berlaku meski berbeda agama. Ketika kaum muslimin berkuasa dan menerapkan syarait Islam dalam hukum bernegaranya, orang Islam maupun non-Islam yang hidup di wilayahnya memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan bahwa suatu ketika, para sahabat dari kaum Anshar pergi ke Khaibar, sebuah daerah dalam kekuasaan Islam yang penduduknya mayoritas kaum Yahudi. Sesampainya di Khaibar, mereka sempat berpencar, kemudian sebagian dari mereka menemukan sesosok jenazah yang ternyata salah seorang dari mereka. Mereka pun lantas mencari tahu siapakah pembunuhnya. Hampir setiap orang Yahudi yang mereka jumpai di sana ditanyai satu persatu. Mereka meyakini bahwa sahabatnya itu dibunuh oleh orang Yahudi. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa pembunuhnya atau siapa pelakunya.
Maka, para sahabat menghadap Rasulullah Saw. dan mengadukan peristiwa ini. Rasulullah Saw. lantas meminta kepada mereka dua orang saksi yang bisa menjadi petunjuk atas pembunuhan tersebut. Namun, para sahabat tidak bisa menghadirkan saksi sehingga Rasulullah Saw. meminta orang-orang Yahudi di Khaibar untuk bersumpah jika memang bukan mereka pelaku pembunuhan itu. Dan, orang-orang Yahudi pun bersumpah, meski para sahabat sempat keberatan untuk menerima sumpah mereka.

Karena orang-orang Yahudi itu bersumpah tidak melakukan pembunuhan, dan para sahabat pun tidak dapat menghadirkan saksi yang menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi itu pembunuhnya, Rasulullah Saw. bertindak langsung untuk membayarkan diyat atas terbunuhnya seorang sahabat itu berupa seratus ekor unta.

Menyimak kisah ini, kita akan teringat kepada salah satu firman Allah Swt., Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Mâ’idah [5]: 8).

Betapa mulia dan adilnya agama ini. Hukum tidak bisa diputuskan jika dilatarbelakangi sentimen rasial, baik suku, agama, ras, bahasa. Hukum tidak boleh diputusan jika didorong oleh diskriminasi strata sosial, ekonomi, bahkan politik. Anak penguasa jika memang terbukti melakukan kejahatan, hukum harus ditegakkan. Dan, hukum pun tidak boleh dijatuhkan jika dicemari amarah atau kebencian. Islam mengajarkan bahwa hukum harus tegak hanya dengan objektivitas atas bukti-bukti dan saksi-saksi.

Dan, masih ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Islam mengajarkan kita untuk menegakkan hukum setelah penilaian secara komprehensif, menyeluruh. Suatu ketika, seorang majikan mengadukan pembantunya karena mencuri. Umar menegaskan bahwa hukuman bagi pencuri adalah potong tangan.

Namun, sebelum hukuman itu dilakukan, Umar terlebih dahulu melakukan investigas. Hingga terbuktilah bahwa pembantu itu mencuri disebabkan kelaparan karena sang majikan lalai memperhatikan kesejahteraan pembantunya itu. Maka, Umar membebaskan sang pembantu dan menghukum sang majikan.

Hari ini kita masih menyaksikan bagaimana ketimpangan penegakkan hukum terjadi di negeri kita. Barangkali spirit keadilan yang diajarkan baginda Nabi Saw. sempat terlupakan. Semoga tulisan ini menjadi bahan pengingat dan renungan.[](Rashid)

Check Also

Shaum

Yang Berbekas Ada cerita nyata. Tentang seorang pegawai di kantor imigrasi di sebuah negeri nun ...

Yang Membangkitkan Semangat Orang Beriman

Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.