Breaking News

Shaum

Yang Berbekas

shaum_metamorphosis_by_ulya27-d59pa0cAda cerita nyata. Tentang seorang pegawai di kantor imigrasi di sebuah negeri nun jauh. Pegawai ini mudah sekali menerima suap dari orang-orang yang berharap mendapatkan  visa. Cukup dengan menyelipkan selembar atau dua lembar uang kertas dalam paspor, hitungan menit visa pun didapat. Tanpa harus menunggu lama, tanpa perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Lalu tibalah satu Ramadhan ketika itu. Pada siang hari yang panas, seseorang menghampiri loket tempatnya bekerja. Menyodorkan paspor melalui lubang kecil dari penghalang kaca fiber transparan. Lalu tiba-tiba, si pegawai itu bangkit dari duduknya, menatap tajam si penyodor paspor dan bertanya dengan nada amarah yang ditahan, “Apakah Anda Muslim? Apakah Anda shaum? Karena saya Muslim dan saya shaum!” Kantor imigrasi ini sangat eksklusif dan pengunjungnya sudah bisa dipastikan semuanya  Muslim.

Cerita ini menegaskan hakikat shaum dan tujuannya, yaitu menjadikan pelakunya sebagai orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah [2]: 183). Betapa shaum yang baru satu hari pun belum rampung, telah memberikan pengaruh sedemikian besar dalam jiwa si pegawai tadi. Dari yang biasanya mudah menerima suap, menjadi sangat tersinggung saat ditawari suap. Ada bagian di hatinya paling dalam yang terketuk dan terusik. Bagian itu bernama keimanan atau keyakinan.

Saat shaum, seseorang mengendalikan hawa nafsunya terhadap makanan. Padahal makanan itu secara zatnya halal, cara mendapatkannya pun halal, miliknya, ada di rumahnya dan dia sendirian. Tapi, ia tak memakannya. Mengapa? Karena shaum. Makan saja, bukankah dia sendirian? Inilah poin pentingnya. Shaum melatihnya untuk yakin bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui dan Maha Menyaksikan.

Itulah mengapa Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis qudsi, “Setiap amalan anak Adam itu adalah (pahala) baginya, kecuali shaum, karena shaum itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR Al-Bukhari)
Para pakar tafsir menerangkan bahwa maksud hadis ini, terutama pada kalimat, “karena shaum itu untuk-Ku,” adalah karena shaum satu-satunya ibadah yang faktor keikhlasannya total. Shaum adalah satu-satunya ibadah yang hanya diketahui pelaksanaannya oleh Allah Swt. dan pelakunya. Shalat masih terlihat gerakannya oleh orang lain. Syahadat masih terdengar dan disaksikan orang lain. Zakat, infak, sedekah pun masih terlihat orang lain. Demikian juga haji dan umrah. Tapi, tidak demikian dengan shaum.

Shaum yang dilakukan pada hari pertama dan belum genap mencapai Maghrib telah memberikan dampak luar biasa pada diri manusia. Merasa senantiasa diperhatikan oleh Allah Swt., terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Maka, sangat naif jika seorang Muslim masih melakukan korupsi, menyuap, menerima suap, memanipulasi, mencuri saat menunaikan shaum Ramadhan. Tak terbayangkan jika saja Ramadhan sepanjang tahun, betapa damai hidup manusia.

Di sinilah hikmah besar itu berada. Shaum Ramadhan disyariatkan hanya satu bulan dalam satu tahun. Bukan membatasi situasi kondusif hanya pada satu bulan tersebut. Sebab, shaum Ramadhan hakikatnya adalah madrasah. Seperti seseorang yang kuliah di perguruan tinggi. Ketika lulus dia akan memperoleh gelar, mengikuti wisuda, dan mendapat ijazah. Akan tetapi, predikat yang sesungguhnya akan dia peroleh manakala ilmunya bermanfaat di dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah shaum Ramadhan. Ia adalah madrasah bagi setiap orang yang beriman. Tanda lulusnya barangkali kegembiraan menyambut Idul Fitri. Namun, bukan itu tanda lulus yang sejati. Tanda lulus yang sejati adalah manakala shaum membekas di hati, pikiran, lisan dan perbuatannya, menjadi ruh dalam setiap kesehariannya sepanjang tahun dan sepanjang hidupnya.

Shaum memiliki muara bernama takwa. Ketika seseorang shaum, ia sejatinya sedang bertransformasi dari level mukmin kepada level muttaqin. Mengingatkan kembali kisah percakapan dua sahabat Nabi Saw., yaitu Umar ibn Khaththab dan Ubay ibn Ka’ab. Umar bertanya kepada Ubay mengenai makna takwa. Namun, Ubay bertanya balik kepada Umar, “Apakah engkau pernah melewati sebuah jalan yang penuh duri?” Umar pun menjawab, “Ya, pernah.” Kemudian, Ubay bertanya lagi, “Bagaimana engkau melewatinya?” ‘Umar menjawab, “Aku melewatinya dengan penuh konsentrasi dan kehati-hatian agar kakiku tidak menginjak duri.” Lalu Ubay pun berkata, “Demikianlah (gambaran) arti takwa yang sebenar-benarnya.”

Takwa adalah kehati-hatian di dalam hidup. Orang takwa berarti hati-hati dalam setiap itikad dan perbuatannya. Ia jauhi yang syubhat, apalagi yang haram. Kehati-hatian itu lahir dari keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap perbuatannya, dan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Orang bertakwa benar-benar menanamkan ihsân di dalam hatinya; beribadah seolah sedang melihat Allah, dan jika tidak demikian, ia selalu yakin diperhatikan oleh Allah Swt.

Shaum Ramadhan hanya satu bulan. Tapi, orang yang bertakwa akan membawa pelajarannya satu tahun ke depan hingga ia berjumpa lagi dengan Ramadhan. Orang bertakwa akan mengamalkan pelajarannya di sepanjang hidupnya. Inilah orang yang meraih kemenangan sesungguhnya.[](Rashid)

Check Also

Keadilan :

Dalam Renungan Ada satu kisah yang sangat masyhur dalam khazanah prinsip hukum dan keadilan agama ...

Yang Membangkitkan Semangat Orang Beriman

Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.