Breaking News

Yang Membangkitkan Semangat Orang Beriman

abstrakPengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah
Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhan­mu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesung­guhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).
Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memper­hatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi. Mereka merasa heran tatkala memper­hatikan orang-orang yang tetap tidak memi­liki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mende­ngar­kan suara hati nuraninya sebentar saja dan ber­pi­kir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah. Sebagaimana dinyata­kan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesem­purnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesan­kan sehingga siapa pun yang mau mengguna­kan hati nuraninya dapat me­nyak­sikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman me­mi­kirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

Menyaksikan Rahmat dan Keindahan
Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan me­nya­dari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu kein­dah­an tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.
Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mere­ka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggu­na­kan akalnya secara semes­tinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas keja­dian-kejadian yang ada hanya akan me­mahami penam­pakan lahirnya saja. Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terba­tas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang ber­kaitan dengan ke­iman­an dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai. Dengan demi­kian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.
Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat ke­indah­an-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diisti­me­wa­kan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhani­nya. Namun mereka dapat melihat dan me­nik­mati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama. Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebi­jakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka me­ningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

 “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu meng­hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).
Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah mem­be­ri­kan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, pada­hal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

Cinta dan Persahabatan
Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mus­tahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka beri­­kan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-ke­un­tungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.
Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, seba­gai­mana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat sese­orang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karak­teristik-karakteristik apa saja yang mesti dimi­likinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.
Selama pemahaman mengenai hal ini se­nan­tiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meli­puti diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memper­lihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda ada­nya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk ber­usaha meraih kedudukan yang tinggi di akhi­rat kelak. Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para ke­kasih-Nya.

Melindungi Kebenaran
“Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluar­kan­lah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelin­dung dari sisi Engkau, dan berilah kami peno­long dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).
Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk me­lindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan men­jamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.
Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menye­la­matkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan ini­lah gairah dan semangat mereka mem­beri­kan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.
Allah juga meminta tanggung jawab kepa­da orang-orang beriman untuk meme­rangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Meme­rangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamai­an serta kesejahteraan adalah terma­suk dian­tara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan. Mengenai pen­tingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemung­­karan ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A’raf: 165).
Ibadah
Bagi orang-orang beriman mencari keri­dha­an dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayat­nya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:
“Hai orang-orang beriman, bertak­wa­lah kepada Allah dan carilah jalan yang mende­katkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).
Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat men­dekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasa­kan oleh seseorang ketika sedang beribadah. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).
Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibuk­kan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewa­jiban dalam beribadah. Mereka mema­hami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat peng­har­gaan yang besar di mata Allah, juga dise­butkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muham­mad saw., di mana seorang muk­min yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasa­kan kebahagiaan ketika menger­jakan shalat, menja­lankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan mena­ati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi. Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasa­kan oleh orang-orang beriman dalam menjalan­kan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebut­kan dalam halaman-halaman selanjutnya.

Membaca al-Qur’an
Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gam­baran mengenai orang-orang ber­iman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan ber­tasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).
Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.
Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mere­ka. Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat mema­hami semua itu. Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasa­kan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka pera­saan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyata­kan bahwa orang-orang beriman me­nyung­kur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:
“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepada­Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil ber­sujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).
Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberi­tahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibaca­kan kepada orang-orang beriman, me­ningkat­kan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:
“Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari ketu­runan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

Doa
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku menga­bulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendak­lah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).
Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucap­kan atau pikirkan adalah penye­bab mun­culnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena menge­tahui bahwa Allah ada bersama mereka, per­lin­­dung­an-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya ter­hadap mereka. Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat menda­lam, benar-benar merasakan perlunya menda­pat bimbingan dari-Nya, dan senan­tiasa me­mo­hon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk me­min­ta apa saja kepada Allah. Setiap orang ber­peluang untuk memohon apa saja yang diper­lukannya, baik hal itu penting atau tidak pen­ting, yang sifat­nya ruhaniah maupun material. Allah men­jawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

Check Also

Shaum

Yang Berbekas Ada cerita nyata. Tentang seorang pegawai di kantor imigrasi di sebuah negeri nun ...

Keadilan :

Dalam Renungan Ada satu kisah yang sangat masyhur dalam khazanah prinsip hukum dan keadilan agama ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.