Breaking News

Ramadhan & Kecerdasan Integratif

Untitled-003Wawancara dengan Dr. Tauhid Nur Azhar

Pernahkan Anda bertannya, mengapa shaum diberlakukan selama 30 hari? Ternyata, perilaku manusia (berdasar teori behavior) baru akan terlihat perubahannya (dan bersifat permanen) setelah sebuah kebiasaan itu diulang-ulang hingga melewati masa 21 hari. Namun demikian, kondisi itu masih tergolong rentan (yaitu kembali kepada kebiasaan semula), hingga tepat adanya kebiasaan baik tadi digenapkan menjadi 30 hari.

Kemudian, untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosi dengan shaum dapat kita mulai dengan melihat anatomi kecerdasan. “Dari sini dapat menjawab, apakah kecerdasan sosial mirip dengan kecerdasan intelektual atau yang lainnya?” atau, “Bagaimana shaum dapat melejitkan kecerdasan emosi?” Demikian salah satu petikan pernyataan dari Tauhid Nur Azhar dalam sebuah wawancara beberapa waktu yang lalu.

Allah Swt. berfiman dalam salah satu ayat-Nya yang berbunyi, Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS Al-Sajdah [32]: 9).

Dalam ayat tersebut, Allah menyinggung tentang kecerdasan fisik dalam kesempurnaan wujud penciptaaan manusia. Salah satu contoh kesempurnaan tersebut adalah bahwa tubuh kita terdiri dair sekumpulan sel (100 triliun lebih) yang dikaruniai kecerdasan berkumpul dan mengordinasikan sendiri dengan sempurna. Tak hanya itu, 10-50 mikron tersebut ternyata bisa berkomunikasi dengan baik. Ini menunjukkan bahwa pada manusia terdapat satu sistematika kecerdasan, mulai yang bersifat mikro sampai makro.

Namun, di samping memiliki kesempurnaan fisik, manusia juga memiliki tiga kecenderungan negatif (atau yang tidak disukai) dan telah disinyalir oleh Allah Swt. dalam beberapa firman-Nya. Ketiga kecenderungan tersebut adalah, pertama, tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, sehingga secara otomatis membuat manusia kehilangan momentum untuk melakukan perbuatan secara rasional, sistematis, dan berpikir secara tenang.

Kedua, manusia acapkali berbuat melampaui batas. Ketiga, bila hasil perbuatan manusia tidak sesuai harapannya, hal itu disikapi dengan kufur nikmat dan berkeluh kesah. Di sinilah kecerdasan fisik manusia harus dijaga, dan shaum merupakan titik singgung sekaligus penyeimbang agar manusia tidak terjebak dalam kekufuran.

Ada orang yang memaknai shaum dari segi fisik, seperti shaum sebagai sarana untuk mengurangi makan, sebagai kendali pola hidup sehingga lebih teratur dan lebih ritmis. Ada pula ajang ibadah kita nanti di bulan Ramadhan dijadikan latihan fisik dengan bangun pagi, kemudian berjalan kaki ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh berjamaah dan malamnya shalat Tarawih. Pertanyaannya, apakah itu salah? Tidak juga. Karena orang yang melakukan hal tersebut hanya mengartikan shaum sebagai sarana peneingkatan kecerdasan fisik.

Namun, dalam Surah Al-Sajdah tersebut tidak berhenti pada kecerdasan fisik semata, melainkan juga disebutkan selain dikarunai wujud yang sempurna, dalam diri manusia telah diembuskan ruh yang menandakan adanya sesuatu yang bersifat transendental atau ilahiyah.

Pada dasarnya, potensi ruh yang ada adalah sama. Kalau boleh diibaratkan, ruh adalah ikan hias yang diam di sebuah akuarium yang tidak lain adalah tubuh manusia. Untuk bisa menampakkan keindahan ‘ikan hias’, akuarium tersebut harus dijaga dalam keadaan bersih. Di sinalah fungsi ibadah sebagai sarana untuk membersihkan ‘akuarium’  manusia yang dari asalnya sudah sempurna.

Selain ruh, manusia dikaruniai panca indera, dalam hal ini mata dan telinga. Allah Swt. kemudian memberikan penegasan bahwa dengan penglihatan dan pendengaran, hendaknya melahirkan pengetahuan, kemudian akan bermuara pada daya nalar di otak, dan lahirlah pemahaman atau persepsi (driving period from knowledge to perception).  Dan kembali pada ayat Al-Sajdah tadi, ditutup dengan resume yang sangat indahmengenai manusia yang juga dikaruniai hati atau kalbu.

Dari sini kita dapat melihat bahwa kecerdasan spriritual sangat bergantung pada kebersihan kalbu. Apabila kita coba mengeksplorasinya, kita akan menemukan bahwa kalbu adalah akumulasi dari kecerdasan fisik dan kecerdasan kognitif (terdiri dari kecerdasan intelektual, sosial, dan emosional).

Mekanisme ibadah seperti shalat, shaum, atau zakat yang dilakasanakan dengan benar pada dasarnya dapat membuka neuronal atau sirkuit-sirkuit saraf yang membangkitkan kecerdasan intuisi atau kecerdasan bawah sadar.

Menurut sains, kecerdasan intuisi ini sebenarnya kecerdasan yang kita sadari, hanya saja kita tidak memedulikannya. Contoh, dalam aktivitas otak tengah. Meski beberapa orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mendekati musyrik, apabila dilakukan dengan benar, hal itu memang dapat dibangkitkan.

Bagi orang mukmin, cara untuk membangkitkan kecerdasan adalah dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib kepada Allah Swt. dengan benar sesuai yang dicontohkan Rasul. Pertanyaannya, mengapa orang yang sudah rajin melaksanakan ibadah-ibadah wajib, masih belum juga bisa membangkitkan kecerdasan intuisinya? Di sini dapat dikatakan, berlaku sistem auto-correction. Bisa jadi shalat, shaum, dan zakat kita belum mencapai pada kadar yang benar dan masih ada keinginan untuk dilihat orang serta bukan benar-benar ikhlas karena Allah Swt.

Selanjutnya, adalah kecerdasan kognitif yang tidak akan ada gunanya, apabila tidak disertai dengan physical quotient. Mengapa? Misalnya, kecerdasan intelektual tidak akan bisa diajak berpikir apabila fisik yang bersangkutan terserang penyakit atau kelelahan. Dari sini kita dengan mudah mengetahui hubungan ketiga kecerdasan dalam kecerdasan kognitif dengan ibadah-ibadah wajib yang kita lakukan. Contohnya, kemampuan kita dalam berkomunikasi, diperintahkan Allah untuk menyampaikan dakwah walau hanya berbekal satu ayat.

Lantas, bagaimana hubungan shaum dengan kecerdasan otak? Salah satu ciri orang yang melaksanakan shaumdengan benar adalah mereka yang memiliki pikiran dan kemampuan mengelola dirinya menjadi lebih jernih dan terarah. Karena shaum seperti kemudi sebuah kapal yang memiliki jangkar positif di sebelah kanan dan jangkar negatif di sebelah kirinya.

Ibadah yang sifatnya reguler dan frekuensinya dipertahankan akan menimbulkan keseimbangan baru dalam hormon yang melahirkan kasih sayang dan rasa cinta. Saat shaum, terbentuklah perilaku baru dan anggapan bahwa ini merupakan proses yang menyenangkan. Tubuh pun kemudian akan mengeluarkan hormon oksitosin yang disebut juga sebagai hormon cinta yang paling tinggi. Jika shaum kita dilakukan dengan benar, kita akan pada kondisi yang gembira, tiada beban dan tenang, karena tubuh dipenuhi dengan zat kimia yang berisikan unsur cinta.

Apakah berhenti sampai di sini? Tentu tidak. Ketika shaum sudah dapat melahirkan cinta, Allah melalui Rasul-Nya menguji kita dengan sedekah. Maka akan terlihat apakah cinta yang muncul dari shaum kita dapat teraplikasi dengan menolong sesama atau tidak. Ciri cinta yang hakiki adalah keinginan kuat untuk berbagi.

Konsep kecerdasan yang lahir dari shaum yang benar adalah perubahan hormonal dan perilaku (lebih rasional). Misal, ketika kita lapar sewaktu saum, otak akan merespons bahwa tubuh kita akan baik-baik saja, toh, rasa lapar tidak akan membunuh, dan masih banyak orang yang miskin yang tidak makan selama berhari-hari dan mereka masih bisa hidup. Dengan demikian kita mlakukan revitalisasi otak. Otak akan lebih aktif berpikir.

Jadi, shaum dapat meningkatkan kecerdasan integratif ( yang merupakan gabungan dari kecerdasan fisik, intelektual, sosial, dan emosional). Sedangkan takwa adalah nama lain dari kecerdasan integratif, karena ia tidak hanya iman secara taklid, tetapi sistematis mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Selain itu, orang yang bertakwa adalah orang yang cukup mumpuni dalam memaknai dan menjalani kehidupan ini. []

(Hendy, dari kutipan wawancara dengan Dr. Tauhid Nur Azhar)

Check Also

Imam Khotib Jum’at

JADWAL IMAM KHOTIB JUM’AT TAHUN 2016 BADAN PENGELOLA ISLAMIC CENTRE (BPIC)PROVINSI JAWA BARAT DEWAN KEMAKMURAN ...

Jadwal Waktu Shalat

JADWAL WAKTU SHALAT DAERAH BANDUNG DAN SEKITARNYA TAHUN 2016 Ketinggian : 0 Meter DPL. – ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.