Breaking News

Al Qur’an Mushaf Sundawi

img0pp14Al Qur’an pada awal sejarah penulisannya diterapkan pada pelepah kurma, kulit, tulang atau lempengan batu set berkembang menjadi mushaf yang sangat indah.

Perjalanan penampilan Al Qur’an sebagai kitab menjadi salah satu bentuk seni Islam yang paling asasi, tidak terlepas dari perkembangan kaligrafi dan bentuk seni rupa seperti pada arsitektur masjid, madrasah, dan termasuk seni iluminasi Al Qur’an.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, perhatian pada bentuk seni rupa belum terlihat, meskipun fenomena terl pengembangan kesenian telah terdapat embrionya. Sebagai contoh, pengembangan kaligrafi sebenarnya berkaitat dengan wahyu yang pertama diturunkan, yakni Iqra -yang secara tersirat mengandung makna perintah membaca- buka menjadi dorongan untuk berlomba-lomba mengejar ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendorong untuk menulis. I perjalanannya, tulisan yang tadinya sekedar goresan catatan, dalam dunia Islam berkembang menjadi karya seni mendukung ayat-ayat suci dan kajian ajaran Islam. Sehingga pada masa kemudian kita mengetahui bahwa :

  1. Sejarah penulisan Al Qur’an , bagi Ummat Islam adalah bagian dari sejarah perkembangan Islam sejak abad VII, 1 Rasullulah Muhammad SAW menerima wahyu suci itu langsung dari Allah Subhana Wa Ta’ala. Namun sesuai di zamannya yang sederhana pada masa itu, para sahabat nabi yang saleh dan arif, hanya dapat menuliskannya antara lain pelepah daun kurma, kulit, lempeng batu ceper serta tulang unta.
  2. Itulah sebabnya mengapa seluruh kaum Islam sangatlah menaruh hormat terhadap setiap kaligrafi yang memuat aya Allah dalam Al Qur’an. Sehingga tidaklah mengherankan jika di setiap kesultanan Islam, para kaligrafer (khattal iluminator adalah seniman-seniman istana yang sangat dihargai dan mendapat kedudukan yang sangat tinggi.

Pada masa Uthman bin Affan – khalifah ketiga yang memerintah pada th.644-655 M.- ayat-ayat yang telah terkumpul, ditulis ali dan dihimpun dalam bentuk mushaf yang dapat dipertanggung jawabkan.

Penghimpunan dan penulisan yang diprakarsai Uthman inilah yang menjadi cikal bakal Al Qur’an standar. Dan seperti kita ui, bahwa Al Qur’an pada masa tersebut ditulis dengan style Kufah dengan tidak mempunyai tanda-tanda baca keg).

Pada masa Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) sejalan dengan makin meluasnya wilayah kekuasaan Islam, dan luknya bukan hanya terdiri dari bangsa Arab raja, Al Qur’an makin disempurnakan dengan memberikan tanda-tanda ti titik di bawah dan atau di atas huruf, serta harakat dan tanda-tanda lainnya untuk tanda panjang, pendek dan ;ainya, guna menghindari kesalahan dalam pembacaan maupun pemaknaannya. Kemudian terbentuklah gejala umum na Seni Islam juga menyerap seni yang bermuatan lokal selama hal itu dapat mendukung dan tidak bertentangan dengan ingan hidup Islam yang bersumber pada Al Qur’an. Dengan demikian berkembanglah perpaduan seni Islam dengan lokal dari mulai Arabia, Mesir, Spanyol, Bizantium, Asia termasuk India dan Cina, dan tentunya juga Indonesia. Jika elaah, unsur lokal tadi seluruhnya berpadu dengan hakikat seni Islam yang berbasis pada “Tauhid” yang merupakan t jatidiri seni Islam yang paling hakiki.