Breaking News

Fiqh Ramadhan: Tarawih, Witir & Tahajud

ust deniBersama Ust. H. Deni Albar, Lc (Imam Masjid Pusdai Jawa Barat)

Tanya:

Assalamulaikum Wr. Wb.

Ustadz, mohon penjelasannya, apakah shalat tarawih dengan shalat tahajud itu sama? Maksudnya, kalau sudah shalat tarawih tidak perlu melakukan shalat tahajud? Terima kasih, Ustadz. Sumarna, Cibiru, Bandung

Jawab:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Dalam terminologi yang berkembang di negeri kita, kedua istilah itu jelas memiliki perbedaan teknis dan waktu. Akan tetapi, secara subtansi memiliki makna yang sama. Syaikh Hamid ibn Abdullah Al-Ali menjelaskan dalam Al-Fatâwâ Al-Mukhtârah Thariqul Islâm.

“Di zaman Nabi Saw. dan sahabat, keduanya dinamakan qiyâmul lail. Pada bulan Ramadhan juga dinamakan qiyâmul lail atau qiyâmu Ramadhân. Mereka melaksanakan shalat selama satu bulan di waktu awal malam sampai akhir malam. Sementara di luar Ramadhan, Nabi Saw. terkadang melaksanakan qiyâmul lail di awal malam, tengah malam, atau terkadang di akhir malam. Ketika Ramadhan, beliau lebih rajin lagi dalam beribadah, melebihi rajinnya beliau di luar Ramadhan.

Kemudian setelah itu, kaum muslimin generasi pasca Nabi Saw. melaksanakan shalat qiyâmul lail pada bulan Ramadhan di awal malam, karena ini keadaan yang paling mudah bagi mereka. Mereka melaksanakan shalat malam di sepuluh malam terakhir di penghujung malam, dalam rangka mencari pahala yang lebih banyak dan mendapatkan Lailatul Qadr, karena shalat di akhir malam lebih utama. Selanjutnya, mereka menyebut kegiatan shalat di awal malam setelah ‘Isya’ dengan nama ‘shalat Tarawih’, dan mereka menyebut shalat sunnah yang dikerjakan di akhir malam dengan nama ‘shalat Tahajud’. Semua itu dalam bahasa Al-Quran disebut tahajjud atau qiyâmul lail, dan tidak ada perbedaan antara keduanya dalam bahasa Al-Quran.

Karena itu, jika ada orang yang ingin melaksanakan (qiyâmul lail) selama Ramadhan di akhir malam, maka ini lebih utama. Sebaliknya, jika ingin shalat (qiyâmul lail) sepanjang Ramadhan di awal malam atau tengah malam, maka semua ini diperbolehkan.”

Wallâhu A’lam bish Shawâb.[]

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bolehkah shalat tahajud atau sunnah yang lain setelah witir? Karena yang sering saya dengar, witir adalah penghujung shalat malam. Bagaimana teknisnya yang benar?

Dimas, Murla Bandung

Jawab:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Memang benar dianjurkan untuk menjadikan shalat witir sebagai penghujung shalat malam. Hal ini berdasarkan hadis dari Abdullah ibn Umar r.a., Nabi Saw. bersabda, “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat witir.” (HR Al-Bukhari no. 998 dan Muslim no. 749)

Namun, beberapa ulama menegaskan bahwa hadis di atas tidaklah melarang seorang Muslim untuk shalat sunnah setelah witir. Meningat terdapat banyak dalil yang menunjukkan boleh shalat setelah witir, antara lain:

  1. Hadis dari Aisyah r.a. ketika ia menceritakan shalat malamnya Rasulullah Saw.: “Kemudian beliau bangun untuk melaksanakan rakaat kesembilan, hingga beliau duduk tasyahud, beliau memuji Allah dan berdoa. Lalu beliau salam agak keras, hingga kami mendengarnya. Kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk.” (HR Muslim no. 746)
  2. Hadis dari Jabir ibn Abdullah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah bertanya kepada Abu Bakar Al-Shiddiq r.a., “Kapan kamu witir?” “Di awal malam, setelah shalat ‘Isya’,” jawab Abu Bakar. Kemudian Nabi Saw. bertanya kepada Umar, “Kapan kamu witir?” “Di akhir malam,” jawab Umar. Lalu beliau bersabda, “Engkau, wahai Abu Bakar, mengambil sikap hati-hati.

Sementara engkau, Umar, mengambil sikap sungguh-sungguh.” (HR Ahmad no. 14535 dan Ibn Majah no. 1202. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)

Adapun teknis pelaksanaannya  bagi kaum muslimin yang hendak mengerjakan shalat tahajud atau sunnah yang lain setelah witir, dia tidak diperbolehkan melakukan witir lagi setelah tahajud. Hal ini berdasarkan hadis dari Thalq ibn Ali r.a., Rasulullah Saw. bersabda:“Tidak boleh melakukan 2 kali witir dalam satu malam.” (HR Ahmad)
Imam Al-Nawawi menegaskan, “Apabila ada orang yang telah mengerjakan witir (di awal malam) dan dia hendak shalat sunnah atau shalat lainnya di akhir malam, hukumnya boleh dan tidak makruh. Dan dia tidak perlu mengulangi witirnya.”

Wallâhu A’lam bish Shawâb.[]

Check Also

Jika Ied Hari Jum’at?

Bersama Ust. H. Deni Albar, Lc (Imam Masjid Pusdai Jawa Barat) Tanya: Apabila hari raya ...

Bermaafan Menjelang Ramadhan

Bersama. Ust. Deni Albar, Lc (Imam Masjid Pusdai Jawa Barat) Assalamu ‘alaikum. Wr. Wb. Benarkah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.