Breaking News

Jika Ied Hari Jum’at?

ust deniBersama Ust. H. Deni Albar, Lc (Imam Masjid Pusdai Jawa Barat)

Tanya:
Apabila hari raya Idul Fithri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at, apakah shalat Jum’at menjadi gugur karena telah melaksanakan Shalat ‘Ied? Mohon penjelasannya karena ada yang mengatakan boleh tidak Jum’atan. Haviyan Shoviyani, Dago, Bandung.

Jawab:
Jumhur ulama menegaskan bahwa Shalat ‘Ied (hari raya) tidak bisa menggantikan shalat jumat. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafii, serta kalangan Zhahiri. Hanya saja Imam Syafii memberikan kelonggaran kepada mereka yang telah melakukan Shalat ‘Ied yang tinggal di pelosok (tempat yang jauh) untuk tidak menghadiri shalat jumat.

Adapun Imam Ahmad berpandangan bahwa kewajiban shalat jumat menjadi gugur atas mereka yang telah melaksanakan Shalat ‘Ied kecuali bagi Imam ketika ada jamaah ingin melaksanakannya agar masjid tidak kosong dari shalat jumat.

Pandangan jumhur di atas yang mengatakan bahwa Shalat Jumat tidak bisa digantikan oleh Shalat ‘Ied didasarkan pada dalil Al Quran dalam surat Al-Jumuah, mewajibkan pelaksanaan jumat tanpa dan sejumlah dalil lain yang melarang untuk meninggalkannya tanpa udzur. Bahkan pada masa Rasulullah saw pernah ied jatuh pada hari jumat, dan Rasulullah saw melaksanakan keduanya bersama sahabat tanpa menyebutkan rukhsah (kelonggaran) untuk meninggalkannya. Ini seperti yang disebutkan dalam hadits sahih dari Nu’man ibn Basyir bahwa Rasulullah saw pada Shalat ‘Ied dan jumat membaca surat al-A’la dan al-Ghasyiyah dan ketika hari ied jatuh pada hari jumat beliau juga membaca keduanya pada kedua shalat tersebut (HR Muslim).

Mereka berpandangan bahwa shalat jumat jumat hukumnya wajib sehingga tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan dalil yang shahih. Sementara sejumlah riwayat yang membolehkan untuk meninggalkannya, ketika berkumpul dengan hari raya tidak bisa dijadikan dalil. Hal itu karena riwayatnya lemah atau isinya tidak secara eksplisit menegaskan bahwa shalat jumat boleh ditinggalkan ketika jatuh pada hari ‘Ied.

Pertama: Orang yang melaksanakan Shalat ‘Ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.
Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy).

Kedua: Bagi orang yang telah menghadiri Shalat ‘Ied boleh tidak menghadiri shalat Jum’at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak Shalat ‘Ied bisa turut hadir.

Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah

  • Boleh bagi orang yang telah mengerjakan Shalat ‘Ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.
  • Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan Shalat ‘Ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.
  • Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.
  • Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak Shalat ‘Ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada Shalat ‘Ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir,
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”. ” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.
    Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (Shalat ‘Ied dan shalat Jum’at).
  • Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri Shalat ‘Ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).

Walllahu A’lamu bishowab

Check Also

Fiqh Ramadhan: Tarawih, Witir & Tahajud

Bersama Ust. H. Deni Albar, Lc (Imam Masjid Pusdai Jawa Barat) Tanya: Assalamulaikum Wr. Wb. ...

Bermaafan Menjelang Ramadhan

Bersama. Ust. Deni Albar, Lc (Imam Masjid Pusdai Jawa Barat) Assalamu ‘alaikum. Wr. Wb. Benarkah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.