PUSDAI Jawa Barat (Pusat Dakwah Islam Jawa Barat) merupakan lembaga keislaman yang berfungsi sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat di Provinsi Jawa Barat. Gagasan pendiriannya telah dirintis sejak awal tahun 1980-an sebagai respons atas kebutuhan akan pusat aktivitas keislaman yang terpadu, representatif, dan berorientasi pada pembinaan umat secara menyeluruh. Nama “Pusat Dakwah Islam” dipilih dengan pertimbangan historis dan semangat nasionalisme, mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia serta mencerminkan fungsi utama lembaga sebagai pusat pengembangan dakwah Islam.Pembangunan PUSDAI diawali dengan proses pembebasan lahan di kawasan Cihaur Geulis, Kota Bandung, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan fisik di atas lahan seluas kurang lebih 4,5 hektar hingga selesai dan diresmikan pada tanggal 2 Desember 1997. Seiring dengan dinamika sosial dan pasca era Reformasi, pengelolaan PUSDAI dikembangkan secara profesional dengan melibatkan ulama, intelektual, dan praktisi. Melalui berbagai program dakwah, pendidikan, pelayanan ibadah, sosial kemasyarakatan, serta pengembangan ekonomi umat, PUSDAI Jawa Barat berkomitmen menjadi pusat dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan keagamaan dan peradaban masyarakat Jawa Barat.
Sejarah PUSDAI (Pusat Dakwah Islam Jawa Barat)
Latar Belakang dan Identitas
Saat ini, bangunan masjid yang indah dan megah sangat mudah dijumpai, mulai dari kota-kota besar hingga pelosok pedesaan. Masjid dan mushala hadir di tengah perkampungan, kompleks perumahan, pinggir jalan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, hingga SPBU. Hal ini membuktikan bahwa shalat telah menjadi bagian dari kebutuhan utama masyarakat.
Fenomena menarik lainnya dalam dua dekade terakhir adalah maraknya pembangunan “Islamic Centre” di Indonesia. Lembaga keagamaan ini umumnya dilengkapi dengan fasilitas gedung megah di atas lahan luas, yang sekaligus berfungsi sebagai ikon atau sarana pelengkap estetika suatu kota atau provinsi.
Provinsi Jawa Barat sebenarnya merupakan salah satu pelopor ide pendirian Islamic Centre di Indonesia. Namun, karena proses pembebasan lahan dan pembangunan memakan waktu yang cukup lama, peresmiannya tidak menjadi yang pertama. Beberapa Islamic Centre di daerah lain selesai lebih awal, meski inspirasi pembangunannya konon mengadopsi ide dari Jawa Barat.
Jika mencari nama "Islamic Centre Jawa Barat", masyarakat mungkin akan kesulitan menemukannya. Hal ini karena lembaga tersebut resmi dinamakan “Pusat Dakwah Islam Jawa Barat”, atau yang lebih dikenal luas oleh masyarakat sebagai PUSDAI JABAR.Mengapa Menggunakan Nama PUSDAI?Berbeda dengan daerah lain yang menyematkan nama "Islamic Centre", nama Pusat Dakwah Islam dipilih karena memiliki nilai sejarah yang melekat:Saat ide ini tercetus, istilah "Islamic Centre" belum akrab di telinga masyarakat Indonesia.Adanya semangat nasionalisme yang kuat untuk lebih mengutamakan bahasa Indonesia daripada bahasa asing.
Pemilihan istilah melibatkan berbagai elemen masyarakat guna menemukan nama Indonesia yang paling representatif.Kini, PUSDAI JABAR telah melewati perjalanan panjang—lebih dari 20 tahun sejak diresmikan pada 2 Desember 1997, atau sekitar 40 tahun jika dihitung sejak gagasan awalnya mulai bergulir.Masa Pembangunan (1982 – 1997)Untuk merealisasikan proyek ini, Gubernur Jawa Barat "Aang Kunaefi" mengeluarkan SK Gubernur No. 593.82/SK.133-Pem.Um/82 pada "18 Januari 1982".SK tersebut menetapkan lokasi Pusat Pengembangan Islam (Islamic Centre) Annex Masjid Raya di Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung.
Kompleks ini dirancang terintegrasi dengan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Museum Perjuangan, dan Lapangan Upacara Pemda Jabar.Relokasi dan Pembebasan LahanProses awal dimulai dengan pembebasan lahan di Kelurahan Cihaur Geulis, Kecamatan Cibeunying, Kotamadya Bandung (tepatnya di Kampung Warga).Batas wilayahnya meliputi:
Utara: Kampung Sukamantri
Timur: Kampung
MuararajeunSelatan: Jl. Diponegoro
Barat: Gedung RRI Bandung
Memindahkan penduduk dari permukiman padat di pusat kota bukanlah perkara mudah. Namun, karena proyek ini memiliki dimensi spiritual demi kepentingan umat, warga setempat dengan ikhlas bersedia direlokasi ke daerah Cibeunying Kolot, Mandala Mekar, dan Cibiru Hilir.
Proses pembebasan lahan, relokasi, hingga pematangan tanah berlangsung selama 9 tahun (1982–1991) dengan total anggaran sekitar Rp20 miliar.Fisik Bangunan dan PeresmianPada masa kepemimpinan Gubernur "Yogi S. Memet", persiapan fisik mulai dimatangkan.
Pembangunan konstruksi dimulai pada tahun "1992" di atas lahan seluas "4,5 hektar", berdasarkan izin Pemda Kotamadya Bandung No. 583/637/II/DTK/92. Proyek fisik ini memakan waktu "6 tahun" dengan biaya mencapai "Rp27 miliar", yang mayoritas bersumber dari APBD Jawa Barat.
Tepat satu bulan menjelang Ramadhan, pada "2 Desember 1997 M (2 Sya'ban 1418 H)", PUSDAI diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat "R. Nuriana". Nama "Pusat Dakwah Islam" baru diumumkan secara resmi pada hari peresmian tersebut setelah melalui kajian panjang.
"Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat membangun peradaban."
Visi
“Menjadi Pusat Dakwah Islam yang Unggul, Modern, dan Mandiri dalam mewujudkan Masyarakat Jawa Barat yang Religius dan Berperadaban Maju.”(Secara ringkas sering diintegrasikan dengan visi Pemprov Jabar: Mewujudkan masyarakat Pasundan yang lahir batin religius melalui pusat syiar Islam yang representatif).
Misi
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Masjid dan Badan Pengelola PUSDAI Jabar menetapkan beberapa misi utama, antara lain:
- Meningkatkan Fungsi Masjid sebagai Pusat Ibadah dan Syiar
Menyelenggarakan peribadahan yang tertib, khusyuk, dan inklusif, serta menyebarkan syiar Islam yang sejuk, toleran, dan sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
- Mengembangkan Pendidikan dan Literasi Islami
Menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal (seperti KBRA, remaja masjid, dan majelis taklim) serta mengelola perpustakaan Islam sebagai pusat riset umat.
- Membangun Kemandirian Ekonomi Umat
Mengoptimalkan pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) serta mengembangkan unit usaha berbasis syariah (seperti KBIHU, wedding organizer islami, dan penyewaan aula) untuk kesejahteraan masyarakat.
- Modernisasi Manajemen Dakwah
Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi terkini dalam penyebaran dakwah digital agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.
- Mempererat Ukhuwah Islamiyah dan Pemberdayaan Sosial
Menjadi fasilitator perekat persatuan umat (ukhuwah), menjalin kerja sama lintas sektoral, serta aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan di Jawa Barat.
Moto Pelayanan PUSDAI JabarDalam menjalankan visi dan misi tersebut, seluruh pengelola PUSDAI Jabar berpegang pada moto:“Amanah, Profesional, dan Melayani”sebagai komitmen untuk memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan terbaik bagi jamaah dan masyarakat.
Dengan arsitektur megah dan nuansa Islami yang kental, PUSDAI sukses menghadirkan kenyamanan, kebersihan, dan atmosfer yang membuat para jemaah betah berlama-lama di dalamnya.
Periode Persiapan Pengelolaan (1990 – 1997)Sebelum pembangunan fisik selesai, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendirikan "Yayasan Islamic Centre Jawa Barat" pada "23 Juli 1990" di bawah kepemimpinan Gubernur Yogi S. Memet. Yayasan ini bertugas membantu pemerintah mempersiapkan, mengelola, dan membina lembaga tersebut.Pada "21 Februari 1992", yayasan resmi didaftarkan ke Notaris Leontine Anggasurya, SH. (Akta No. 63) dengan jajaran pendiri sebagai berikut:
H. Emon Suratman
H. Suryatna Soebrata
Drs.H. Ukman Sutaryan
Prof.Dr. H. Rahma Djatnika
Drs.H. Djauharudin Abdurrohim
KH. R.Totoh Abdul Fatah
Pada tahun 1996, menjelang peresmian, pemerintah memperluas mandat yayasan untuk turut mengelola Monumen Perjuangan. Namanya diubah menjadi "Yayasan Islamic Centre dan Monumen Perjuangan Jawa Barat" melalui "SK Gubernur Nomor 645.8/SK.1275-Huk/1996.
Tantangan Awal Pengelolaan
Setelah diresmikan pada akhir 1997, pengelolaan teknis langsung dipegang oleh aparat Sekretariat Wilayah Daerah (Setwilda) Tingkat I Jawa Barat. Namun dalam praktiknya, aparat Setwilda mengalami keteteran karena beban kerja pokok kedinasan yang sudah sangat padat.
Sebagai lembaga besar yang baru berkembang, PUSDAI sempat vakum dari program-program besar eksternal di awal berdirinya. Aktivitas saat itu masih terbatas pada shalat lima waktu, shalat Jumat, serta wadah diskusi keagamaan dan pengajian anak-anak yang diinisiasi oleh kelompok remaja masjid.
Melihat besarnya harapan masyarakat serta bergulirnya arus Reformasi (Mei 1998), muncul aspirasi kuat agar PUSDAI dikelola secara profesional oleh kalangan ulama dan intelektual.
Periode Kepemimpinan Prof. Dr. KH. Miftah Faridl (1998 – 2004)
Merespons aspirasi publik, Gubernur Jawa Barat R. Nuriana menerbitkan Kepgub Nomor 45 Tahun 1998 pada tanggal 20 Agustus 1998.
Kepgub ini membentuk Badan Penyelenggara Yayasan Darma Bakti Jawa Barat untuk mengelola PUSDAI.
Penyelenggara Eksekutif:
Direktur: Drs. KH. Miftah FaridlDirektur
Pelaksana: Ir. H. Sodik Mudjahid, MSc.
Bidang Administrasi & Umum: Ir. H. Agus Hasbi Noor
Bidang Pendidikan & Pengkaderan: Dr. Ir. H. Zainal Abidin
Bidang Pelayanan Ibadah & Kemasyarakatan: Drs. H. Iding Bahruddin
Bidang Pengembangan Informasi: Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, MA.
Bidang Kajian Islam & Kebudayaan: Dr. Ir. H. Teuku Abdullah Sanny
Bidang Baitul Maal wat Tanwil (BMT): Drs. H. Agus Syihabudin, MA.
Bidang Pengelolaan Monumen: Drs. H. Agus Sumarno
Perkembangan Program dan Kemandirian
Di bawah kepemimpinan KH. Miftah Faridl, PUSDAI Jabar mengalami kemajuan pesat dan program-program kerjanya langsung terasa di masyarakat.
Pendidikan & Pengkaderan: TK Islam Terpadu, TKA/TPA, Pendidikan Guru TK & SD, serta seminar kependidikan.Pelayanan Ibadah: Pengelolaan khutbah Jumat, Kuliah Ahad Duha, Majelis Taklim, Konsultasi Keluarga, dan Balai Kesehatan.
Pengembangan Informasi:Galeri Mushaf Sundawi, perpustakaan, kursus bahasa, serta penerbitan buku/buletin.
Kajian Islam & Budaya: Kajian Jumat Sore (lintas disiplin ilmu), Kelompok Astronomi Amatir, serta Kelompok Arsitektur & Lingkungan.
Baitul Maal wat Tanwil: Unit Pengelola Zakat, minimarket, toko buku, pengelolaan parkir, komersialisasi Gedung Serba Guna (Bale Asri), dan asuransi syariah (Takaful).
Selain itu, PUSDAI membentuk wadah Remaja dan Pemuda Islam PUSDAI (Rampai) serta merintis Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).Penataan Struktur LanjutanPada akhir tahun 1999, pemerintah mengevaluasi bahwa fungsi dakwah PUSDAI berjalan sangat baik, namun pengelolaan Monumen Perjuangan memerlukan penanganan terpisah.
Oleh karena itu, pada "3 November 1999", terbit "Kepgub No. 84 Tahun 1999" yang memfokuskan badan ini khusus menjadi "Badan Penyelenggara Unit Pusat Dakwah Islam" untuk masa bakti 1998–2002.Struktur barunya ditandatangani oleh Sekda Jabar melalui "SK No. 451.48/Kep.1178-Huk/1999".
Direktur: Drs. KH. Miftah Faridl
Wakil Direktur: Ir. H. Sodik Mudjahid, MSc.
Bidang Administrasi & Umum: Drs. H. Iding Bahruddin
Bidang Pendidikan: Dr. Ir. H. Zainal Abidin
Bidang Pelayanan Ibadah: Drs. H. Djadja Djahari
Bidang Pengembangan Informasi: Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, MA.
Bidang Kajian Islam: Dr. Ir. H. Teuku Abdullah Sanny
Bidang BMT: Drs. H. Agus Syihabudin, MA.
Bidang Penelitian & Pengembangan (Litbang): Ir. H. Agus Hasbi Noor
Berkat kombinasi figur ulama yang kharismatik dan manajemen yang profesional, PUSDAI mendapatkan kepercayaan serta dukungan penuh dari jemaah dan masyarakat luas.
Setelah sempat diperpanjang pasca-tahun 2002, kepengurusan periode dinamis ini secara resmi diserahterimakan dengan hormat pada "22 April 2004" melalui "Kepgub Nomor 466.4/Kep.394-Yansos/2004" untuk menyambut estafet kepengurusan yang baru.
Setelah sempat diperpanjang pasca-tahun 2002, kepengurusan periode dinamis ini secara resmi diserahterimakan dengan hormat pada "22 April 2004" melalui "Kepgub Nomor 466.4/Kep.394-Yansos/2004" untuk menyambut estafet kepengurusan yang baru:
STRUKTUR KEPENGURUSANI.
Pembina
1. Gubernur Jawa Barat2.
Wakil Gubernur Jawa Barat
II. Penasehat
1. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat
2. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat
3. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat
4. Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat
5. Ketua MUI Jawa Barat6. Ketua PW DMI Provinsi Jawa Barat
III. Pengarah
1. Ketua PW NU Jawa Barat
2. Ketua PW Muhammadiyah Jawa Barat
3. Ketua PW Persis Jawa Barat
4. Ketua ICMI Jawa Barat
IV. Imam Besar
Prof. Dr. KH. Rahmat Syafei
Wakil Imam Besar
Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag
V. Ketua DKM
Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag
VI. Sekretaris DKM
Dr. KH. Jujun Junaedi, M.A
Wakil Sekretaris DKM
Dr. H. Ijang Falsal
VII. Bendahara DKM
Hendy Hermawan, S.Sos
Wakil Bendahara DKM
H. Agus Salman, M.Ag
IX. Ketua Bidang Idarah
H. Ahmad Zen Zaeni
Anggota Bidang Idarah
1. Dr. H. Rohmanul Aziz, M.Ag
2. Dr. Hj. Diah Fatma Sjoeraida, M.Si
3. Dr. H. Achmad Ridwan, SE
4. H. Dendi Abdul Aziz, M.S5. Saepudin Zuhri
X. Ketua Bidang Imarah
H. Uman SahrumanAnggota Bidang Imarah
1. Dr. H. Fathurrohman El Basyari, Lc., MA
2. H. Asep Jazuli
3. H. Nurdin Hidayat
4. Arif Nurjaman, M.Ikom
XI. Ketua Bidang Riayah
H. Budi Kurnia, S.Ag
Anggota Bidang Riayah
1. Dr. H. Ramdan Fauzie, M.Ag
2. Ir. Toni Kusnadi
3. Sri Nurfadilah
4. Fauzan, S.Pd
Konsep gaya bangunan PUSDAI mengacu pada arsitektur Islam Timur Tengah dan Turki yang ditandai dengan penggunaan pola-pola geometris serta lengkung khas Islam.
Sementara itu, bentuk atapnya mengadaptasi model atap tropis Indonesia dengan bentuk limasan sehingga mampu menyesuaikan dengan kondisi iklim setempat.Konsep menara PUSDAI memiliki makna filosofis yang mendalam, yaitu melambangkan keesaan Tuhan, kejujuran dan efisiensi, serta kesederhanaan yang diwujudkan melalui desain yang fungsional.Pada elemen estetikanya, PUSDAI mengangkat filosofi alam dan budaya, khususnya budaya Sunda.
Hal tersebut diterapkan pada dinding dan kolom melalui ukiran tanaman khas Sunda seperti patrakomala, hanjuan, dan melati, yang menjadi simbol keindahan sekaligus identitas budaya lokal.Sementara itu, konsep estetika pada mihrab memadukan ayat-ayat qur'aniyah yang diwujudkan dalam kaligrafi Al-Qur'an dengan ayat-ayat kauniyah yang merepresentasikan keagungan ciptaan Allah.
Perpaduan tersebut ditampilkan melalui berbagai unsur material seperti kayu, logam (tembaga), batu granit, serta permainan warna pada kaca patri dan pencahayaan dari kaca etsa sehingga menghasilkan suasana ibadah yang indah dan khusyuk.
Keseluruhan konsep arsitektur tersebut merupakan karya Pak Slamet Wirasonjaya sebagai arsitek PUSDAI. Beliau merancang bangunan dengan memadukan nilai-nilai Islam, budaya Sunda, dan arsitektur tropis menjadi sebuah kompleks yang memiliki karakter khas.
Kompleks PUSDAI berdiri di atas lahan seluas 45.000 m² dengan luas bangunan satu dan dua lantai mencapai 13.832 m². Selain itu, terdapat plaza seluas 3.375 m², area pedestrian dan parkir motor seluas 4.760 m², parkir mobil seluas 2.698 m², taman seluas 5.255 m², serta jalan beraspal seluas 8.558 m², yang mendukung fungsi PUSDAI sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial masyarakat.
PUSDAI | JAWA BARAT